Shaggydog Usung Konser Ulang Tahun Secara Daring

Shaggydog Usung Konser Ulang Tahun Secara Daring

Shaggydog baru saja ber-usia ke 23 tanggal 1 Juni lalu. Menginjakkan kaki di umur ke 23 itu layaknya seorang remaja yang mulai beranjak dewasa. Tentunya dengan masih menyisakan bayang – bayang sifat bergajulan mereka walaupun kini sudah bisa diarahkan ke haluan yang tepat, semoga. Biasanya pesta ulang tahun, apalagi di umur ke 23, identik dengan hingar bingar pesta bersama rekan sejawat. Apalagi ini band yang identik dengan irama yang cocok untuk berdansa bersama. Tapi tentu saja kedewasaan mereka menghadapi masalah pandemi ini membuatnya memutar otak untuk membuat sebuah perayaan yang sesuai (baca: mengindahkan protokol physical distancing). Dipilihlah konsep konser live secara online. Ide dasar pementasan daring yang diberi judul 23LOAD Concert ini berasal dari angka ulang tahun 23 dan tema reload (memuat ulang). Draf ini bermula dari situasi pandemi yang sudah berlangsung beberapa bulan dimana banyak menguras energi dan kini sudah saatnya untuk bangkit serta memuat ulang energi untuk kembali bekerja menyambung hidup, tentunya dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang berlaku di era new normal ini. Bekerjasama dengan perusahaan di bidang Teknologi Informasi, Citraweb dan Citranet, kugiran Ska ini akan merealisasikan sebuah pergelaran daring secara live. Konser ini berusaha mengemas sebuah pementasan musik intim nan hangat dimana penonton disuguhkan tayangan layaknya berada di dalam satu ruangan bersama player, berdesakan secara virtual dengan gig goers lainnya seperti sebuah gig normal. Disediakan juga ruang interaksi online untuk saling bercengkerama diantara penonton juga dengan player disaat pergantian sesi tontonan. Di babak lain ada talk show bersama beberapa individu yang sempat berkelindan dengan kegiatan Shaggydog selama 23 tahun ke belakang mulai dari mantan manajer sampai ke mereka yang pernah bekerjasama. Shaggydog akan membawakan...
Live Concert Supermusic Sound of Crew Coba Siasati Kondisi Finansial Para Kru

Live Concert Supermusic Sound of Crew Coba Siasati Kondisi Finansial Para Kru

Pandemi membuat hampir semua lini kehidupan terkena imbas-nya termasuk juga industri musik. Tidak hanya musisi dan band, ekosistem dibalik panggung yang terlibat disitu pun ikut terpukul misalnya vendor, venue dan crew band. Sebelumnya Shaggydog telah menginisiasi Doggies Berbagi: Peduli Tenaga Medis yang melelang barang milik pribadi kemudian hasilnya digunakan untuk produksi face shield. Face shield sebanyak total 710 buah ini kemudian didistribusikan ke para tenaga medis melalui bantuan tim Jogja Lawan Corona x Mama Jahit.id serta tim Kontrakan Asmara ke beberapa rumah sakit dan puskesmas di Yogyakarta.  Crew dan tim produksi band yang terkena efek domino pandemi pun mendapat perhatian dari Shaggydog. Dibuatlah sebuah program acara yang hasil penjualan tiketnya akan dibagikan kepada mereka. Program bertajuk Supermusic Sound of Crew – Shaggydog Jamming With The Crew ini pada intinya merekam kegiatan bermusik crew Shaggydog bersama player (dengan tetap menggunakan protokol physical distancing) dilanjut dengan interview. Supermusic, Shaggydog bersama HOOKSpace dan Loket.Com sebagai partner penyelenggara mencoba menyajikan perspektif lain kepada publik mengenai kondisi ekosistem industri musik Indonesia saat ini dari kacamata para pelaku dibalik panggung. Program ini mencoba memberikan alternatif untuk menyiasati kondisi finansial industri musik di tengah kondisi pandemi salah satunya dengan membuat live concert jamming crew dan player Shaggydog. Calon penonton membeli tiket seharga Rp. 20.000 dan Rp. 50.000 melalui Loket.com atau GoTix untuk kemudian diberikan link streaming konser. Hasil penjualan tiket ini kemudian didonasikan kepada para crew dan tim produksi band di Jogja yang terkena dampak pandemi. Supermusic Sound of Crew – Shaggydog Jamming With The Crew sendiri akan ditayangkan pada tanggal 15 Mei 2020 pukul 20.00 – 22.00...
Berduet Dengan Istri, Heruwa Dendangkan Pengharapan

Berduet Dengan Istri, Heruwa Dendangkan Pengharapan

Musisi kembali harus memutar otak untuk beradaptasi dengan keadaan yang memaksa mereka berada di rumah saja. Tapi berada di rumah bukan berarti membuat para musisi berhenti berkarya, salah satu yang tetap produktif adalah Heruwa. “Melaksanakan tugasku sebagai seorang musisi yang sudah  berkeluarga, apalagi yang bisa kulakukan selain membantu bersih – bersih rumah dan meringankan beban pekerjaan rumah tangga? Ya, tentu saja, menulis lagu, merekam dan merilisnya. Dari rumah” jelas Heruwa mengenai produktifitas karyanya. Energi yang berlebih itu disalurkan juga untuk mengaransemen lagu yang dikerjakannya secara solo. Hasilnya adalah dua buah lagu: Party Sendiri dan Dendang Harapan. Party Sendiri yang sudah rilis digital stores 4 Mei lalu sempat dibuatkan sebuah kontes video aktifitas di rumah via Instagram bertagar #PartySendiriChallenge. Video klip-nya kemudian diproses oleh Willy dari Lokacinema yang berisi kompilasi aktifitas sehari-hari followers Instagram @heruwa. Vokalis yang baru saja merayakan ulang tahun ke 40 ini juga berhasil menulis sebuah lagu di hari spesial-nya, Dendang Harapan. Komposisi rancak bernafaskan Reggae dan dengan sedikit sentuhan gregorian di tengah lagu ini berisikan serangkaian  lirik pengharapan yang mendoakan supaya terang segera menyeruak dari balik gelap yang selama ini menyelimuti. Lirik “dari kegelapan akan muncul terang, bersiap-siaplah untuk dunia baru” makin menandakan harapan tersebut. Rencananya, lagu ini akan digunakan untuk gerakan donasi, bagi kawan-kawan crew band yang penghasilannya terdampak COVID-19 Proses mixing dan mastering lagu Dendang Harapan yang ditangani oleh Ferry Kurniawan ini pun cukup tak lazim, yaitu dilakukan secara real-time, dengan merelay apa yang sedang dikerjakan Ferry di studio-nya, ke studio Heruwa via internet, dalam format audio Aura lagu ini terasa makin hangat dengan bagian vokal latar yang dinyanyikan oleh sang istri, Anis Nasution....
Kaleidoskop DoggyHouse Records 2019

Kaleidoskop DoggyHouse Records 2019

Lima tahun sudah DoggyHouse Records berdiri sebagai salah satu unit produksi milik Shaggydog. Selama tahun 2019 DHR telah merilis 4 single, yaitu: KingMasMus x Magix Riddim – Mangga, Shaggydog – Jangan Gontok-Gontokan, Keynie – Little Liar Man dan Dubyouth – Stomp. Dua album penuh dari Black Finit – Digiyo Digiye dan 8 Creative pun dirilis oleh label ini selain membantu perilisan ulang album Sangkakala – Heavymetalithicum. Tidak hanya rilisan, tercatat label ini juga menggelar beberapa kegiatan yang menunjang perilisan artis mereka ambil contoh misalnya screening video musik Black Finit dan KingMasmus x Magix Riddim serta event tahunan Records Store Day dan Cassette Store Day chapter Yogyakarta. Belum lagi geliat DoggyHouse Records Artist Management (DRAM) yang mengurusi jadwal manggung 2 artisnya: Dubyouth dan Black Finit. Untuk memenuhi permintaan beberapa band yang ingin melakukan proses mixin dan mastering, DoggyHouse Studio pun dibuka untuk umum mulai Juli. Terdapat 3 paket mixing mastering yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan budget yang dimiliki. Tahun 2019 banyak membawa kesan pembaruan di tubuh DoggyHouse Records. Mulai dari beberapa volunteer muda di bidang desain, video dan fotografi panggung yang bergabung membuat unit ini menyuntikan kesegaran baru ke tubuh Shaggydog. Semoga di tahun 2020 nanti lebih banyak lagi inovasi dan pembaharuan yang membawa kemajuan bagi semuanya. Berikut ini kaleidoskop tahun 2019 dari DoggyHouse Records: Januari DoggyHouse Records memulai tahun 2019 dengan single Mangga dari kolaborasi duo musisi Dub, KingMasMus x Magix Riddim, yang diedarkan melalui kanal musik digital mulai tanggal 31 Januari Februari Menyambut hari kasih sayang, DoggyHouse Records bersama Doggy Shop menggelar sale Couple Package berupa promo beli 2 kaos dengan desain yang sama hanya seharga 200k...
Terinspirasi Tingkah Anaknya, Heruwa Bikin Lagu Baru Untuk Dubyouth

Terinspirasi Tingkah Anaknya, Heruwa Bikin Lagu Baru Untuk Dubyouth

Mungkin kita akan mahfum ketika seorang musisi sudah berkeluarga apalagi menimang anak, maka produktifitasnya dalam bermusik akan perlahan menurun. Tiba masa susah membuat lagu yang nyantol di telinga, berpotensi nge-hits maupun insting untuk ber-eksplorasi. Tapi tidak dengan Heruwa dan tandem-nya di Dubyouth Soundsystem, Metzdub. Setelah sukses merilis “Roots” dalam bentuk digital dan video musik yang dikerjakan dengan tehnik yang tidak biasa, duo ini tidak berdiam diri. Disela rangkaian manggung Heruwa yang padat berbagi dengan Shaggydog serta jadwal momong anak, Dubyouth kembali melepas single terbaru. “Stomp” dipilih sebagai judul lagu yang bakalan membuat siapapun yang mendengarnya tidak kuasa menghentak lantai dansa.  Siapa nyana justru lagu ini pertama kali terinspirasi oleh momen tingkah polah Atha, anak semata wayang Heruwa. “Setiap habis mandi, Atha pasti disuruh membersihkan kakinya di keset sama mamanya. Nah pas membersihkan kaki tadi di-iringi dengan kata-kata “stomp, stomp, stomp” , dengan nada seperti di lagu “Stomp” ini” ujar Heruwa mengenai kisah dibalik penciptaan “Stomp”.   Ditilik dari segi musikal, “Stomp” mencampurkan komposisi dari beberapa irama dan nada. Dimulai dari intro-nya yang mengadopsi  musik khas Timur Tengah lengkap dengan alunan serunai. Beranjak ke tengah ada nuansa Meksiko dengan tiupan trumpet Rio Sidik yang meliuk membawa angan kita menuju ke sebuah pesta kartel di Sinaloa.  Musik yang melekat di “Stomp” mungkin mengadopsi scale tradisional dari Arab dan atmosfir Meksiko tapi beat Reggaeton tampak mendominasi keseluruhan komposisi-nya. Hal ini dipermanis lagi dengan balutan string dari Ferry Kurniawan dan genjrengan gitar kolega Heruwa di Shaggydog, Raymond. Belum lagi vokal centil Melati (yang pernah menjadi backing vokal di lagu Shaggydog feat. NDX AKA -Ambilkan Gelas) menambah semarak lagu berdurasi  4.17 menit ini. Single...
Kebohongan Dalam Single Terbaru Keynie

Kebohongan Dalam Single Terbaru Keynie

Yogyakarta seakan tidak ada habisnya dengan persediaan musisi yang fresh dengan segala jenis musik yang mereka ciptakan. Bisa jadi kota ini memang merupakan laboratorium bagi para musisi untuk menghasilkan karya yang cenderung fresh dan berani. Salah satu musisi kota gudeg yang digadang – gadang akan menghasilkan materi yang menarik ini adalah Keynie. Bermain di ranah musik Dansa Elektronika dan keberaniannya dalam memproduseri lagunya sendiri membuat Keynie terlihat stand out diantara deretan rookie. Hal inilah yang membuat seorang Heruwa “Shaggydog” tertarik untuk membantu mengedarkan lagu milik Keynie melalui label rekaman milik Shaggydog. Gayung pun bersambut dengan hadirnya DoggyHouse Records sebagai fasilitator untuk merilis materi yang selama ini mengendap di studio. Setelah proses rekaman yang cukup melelahkan termasuk berganti studio akhirnya rampung juga single pertama Keynie. Diberi judul “Little Liar Man”, komposisi ini berkutat pada cerita kebohongan seorang lelaki atas dasar romansa. “Kalo cerita dibalik lagunya itu sih sebenernya dari pengalaman pribadi. Jadi ada cowok gitu yang bertahan hidup dengan berbohong ke semua orang” ungkap Keynie mengenai kisah dibalik pembuatan lagu ini. Lelaki yang diceritakan dalam “Little Liar Man” ini bertahan hidup dengan banyak membuat dinding dusta yang  mengelilingi kehidupannya. Sayangnya banyak orang yang percaya dan menaruh rasa hormat atas bualan yang disusunnya. Hingga kemudian terungkaplah bahwa itu semua hanyalah kedustaan. Akumulasi dari berbagai macam kepalsuan lelaki ini yang kemudian berdampak buruk dan merugikan banyak orang. Dalam musiknya, Keynie menggabungkan berbagai mode musik dansa dengan pengaruh Pop dan R&B kontemporer. Dengan sadar Keynie memutar pengaruh input kolaboratif menjadi suara yang bertekstur, eksploratif, baik yang intim maupun yang luas. Hasilnya, “Little Liar Man” terasa intim sekaligus berlimpah — kumpulan nada Elektronika ruminatif...