by admin | Feb 14, 2026 | News, Releases
Ekosistem seni Yogyakarta termahsyur sebagai kota yang punya banyak talenta kreatif, saling berjejaring lintas bidang dan merandai genre dengan produksi karya-nya senantiasa berkelanjutan. Didukung dengan komunitas organik yang saling menyokong, saling topang, memunculkan ruang demi ruang pertemuan kolaborasi nan kreatif. Tidak heran kolaborasi di lingkup musisi dan seniman sering muncul secara organik di kota ini, salah satunya kongsi antara Metzdub dengan Sirin Farid Stevy ini. Tentang Metzdub Metzdub, produser musik elektronik berbasis di Jogja ini barusan menyabet perhatian publik dengan kolaborasi-nya bersama Elda Suryani (Stars & Rabbit). Meskipun ini bukan kolaborasi pertama-nya dengan musisi lain, “Prachodayat” memantabkan evolusi langkahnya untuk eksplorasi kemungkinan lain setelah sebelumnya dikenal sebagai separuh dari duo Dubyouth Soundsystem. DJ yang juga seorang audio enthusiast produk speaker Muztika ini pada awalnya mengulik drum & bass, seiring berjalannya waktu Metzdub mulai mengeksplorasi pencerahan spiritual yang membuatnya ber-evolusi secara signifikan, bisa dilihat dari beberapa karya project solo-nya. Satu diantaranya adalah kolaborasi bersama gitaris Seek Six Sick, Jimi Mahardikka, menghasilkan duo Mackerel dengan single “Aku Ingin Seperti RX King” yang penuh balutan dub, trip hop serta sentuhan psychedelic gitar. Tentang Sirin Farid Stevy Bagi beberapa orang, Sirin Farid Stevy dikenal sebagai vokalis dan lirikus band almost rock, barely art, FSTVLT. Sementara orang lain mengamini kiprah alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta jurusan Disain Komunikasi Visual ini sebagai seniman desain visual yang punya atribut kuat. Selama kuliah, lingkaran pertemanannya dengan kawan – kawan di luar bidang desain visual membuatnya berkelindan dengan dunia musik sekitar 2003. Seni musik yang awalnya ditempatkan seniman yang berada di balik logo KAI ini sebagai wilayah untuk bersenang senang akhirnya menyusup ke...
by admin | Feb 5, 2026 | News, Releases
Skena musik Yogyakarta memang dikenal sebagai laboratorium bermusik yang kolaboratif. Banyak band dan musisi di Jogja yang bersama – sama mengeksplorasi musik tanpa mengenal batas genre dan generasi. Lingkungan yang mendukung suasana ini membuat kolaborasi musisi antar genre dan generasi menjadi sesuatu yang umum terjadi di kota gudeg. Member band dari skena underground nongkrong bareng musisi dari lingkup industri nasional, tidak jarang saling bertukar gelas minuman. Banyak dari obrolan casual di tongkrongan ini yang kemudian memunculkan ide kolaborasi. Mulai dari Shaggydog yang menggaet NDX AKA di lagu bernuansa dangdut, Ambilkan Gelas, atau Ndarboy Genk yang berkontribusi di versi keroncong-nya Di Sayidan. Kini Shaggydog kembali dengan single baru yang mengajak Rebellion Rose dan The Glad. Lagu bertajuk Lodse ini menggambarkan nuansa guyub rukun anak – anak band di Jogja yang tidak memandang genre dan generasi. “Band kalo udah lama tapi masih pengen relevan dengan kondisi sekarang ya perbanyak komunikasi dengan mereka yang lebih muda, berkolaborasi bukan kompetisi mulu” ujar Shaggydog mengenai alasan mereka mengajak kedua band beda generasi tersebut. Bayangkan Shaggydog yang identik dengan musik ska generasi awal, bersama sekumpulan skinhead anti nganggur yang tergabung dalam The Glad juga generasi baru punk rock yang diwakili Rebellion Rose. Diciptakan oleh Raymond gitaris Shaggydog, lodse berasal dari bahasa walikan (slang) yang artinya ngombe (minum). “Ide-nya muncul pas ada kegiatan teman – teman yang kumpul bareng, muterin gelas terus dari situ banyak pertukaran ide atau malah cuma sekedar wacana, lalu kemudian muncul inisiatif kenapa ga dibikin lagu aja?” ujar Raymond tentang tema awal lagu yang banyak memuat lirik bahasa Jawa ini. Ketika proses rekaman dimulai di studio Doggy House, muncul momen kelucuan yang...
by admin | Aug 15, 2025 | News, Releases
Tentang Lagu Shaggydog – Insomnia Shaggydog, band yang baru saja berusia 28 tahun pada bulan Juni lalu ini mempunyai banyak lagu hits. Khalayak pasti sudah hafal dengan lagu Di Sayidan yang masuk ke daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia. Sebagaimana band yang sudah berumur panjang dan menciptakan banyak komposisi, tentunya Shaggydog punya lagu yang jarang dimainkan, salah satunya Insomnia. Ada di album Bersinar rilisan Fame tahun 2009, Insomnia termasuk jarang dibawakan di atas panggung mengingat atmosfer lagunya yang mungkin terkesan gloomy untuk ukuran Shaggydog yang selalu membawa vibe riang. Tema lagu yang musiknya diciptakan oleh Richad Bernado ini memang berdasar kebiasaan musisi yang susah tidur karena harus begadang entah sedang tour atau bikin lagu. Tentang Remix Lagu Insomnia Setelah tahun lalu lagu ini dirilis video dalam program Off the Record Vol. 1 dan juga masuk dalam album Shaggydog Live at Milli, kini giliran Heruwa membuat versi remix-nya. Enam belas tahun setelah Insomnia dirilis, akhirnya lagu ini mendapatkan sentuhan yang berbeda dari tangan dingin penulis liriknya. Versi remix ini membawa aura yang lebih trippy dengan karakter khas Bristol sound yang pernah popular di era 90an. Komposisi bass-nya mampu menciptakan irama yang ritmik diimbangi dengan part drum yang sederhana dan fill in synthesizer mengawang menambah kesan atmosfer yang moody. “Lagu ini bisa jadi ga terlalu mudah untuk didengarkan dalam sekali duduk, kalo suasana hatinya ga sesuai” ungkap Heruwa mengenai remix yang artwork-nya dibikin oleh Gilang Lepaskendali Labs ini. Featuring Sal Priadi Lebih seru lagi karena Heruwa mengajak Sal Priadi untuk berkolaborasi. Pelantun Gala Bunga Matahari ini bukanlah orang yang baru bersinggungan dengan Heruwa dan Shaggydog. Kedekatan...
by admin | Jul 22, 2025 | News, Releases
Skena Malaysia mungkin banyak kita ketahui melalui musik pop, Melayu maupun rock. Di era 90an lazim kita dengar lantunan suara Sheyla Madjid, band rock Iklim, Search dan yang fenomenal adalah lagu Isabela, kolaborasi antara Amy Search dengan Inka Christi. Tapi jangan salah, negeri Jiran juga banyak menghasilkan beberapa band dari genre lain yang berkualitas, diantaranya adalah band ska yaitu The Corumn, Gerhana Ska Cinta dan juga Moda Moody. Moda Moody merupakan sekumpulan musisi yang memadukan beberapa genre musik ska, reggae dan indie yang dinamis untuk mewakili identitas mereka. Pada 2007 mereka membentuk Moda Moody mewakili generasi musisi yang terinspirasi budaya lokal maupun global. Moda Moody berdiri sebagai simbol yang menyatukan musik, identitas dan budaya menjadi suara lantang untuk generasi mendatang. Medio Agustus 2007 Moda Moody merilis dua lagu dengan irama ska yang menghentak yaitu “Temanku” dan “Tak Mengerti”. Di tahun yang sama, Moda Moody merilis “Ini Ska”, “Muda Mudi” dan “Nostalgia Pelangi Mimpi” kembali memperkuat gaya khas Moda Moody dengan membaurkan komposisi ska, reggae dengan indierock. Pada Desember 2009 Moda Moody meluncurkan album penuh berjudul “Dan Rudies Terus Menari” yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari, ekspresi diri, persahabatan dan kegembiraan. Debut album yang berisi 10 lagu ini menjadi pengukuhan mereka di blantika musik indie Malaysia. Di usia yang sudah tak muda lagi, Moda Moody berkesempatan untuk bekerjasama dengan label berbasis di Yogyakarta, DoggyHouse Records, untuk merilis EP bertajuk “Rekam Jejak”. Masih mengusung nuansa ska, reggae dan indie rock, mini album ini berisi 5 lagu yaitu, “Rindu Dihembus Bayu”, “Bodoh”, “Gadisku di Lantai Tari”, “Reggae dan Ska”, serta “Matahari”. Khusus aransemen “Rindu Dihembus Bayu” disisipi langgam keroncong yang senantiasa...
by admin | May 27, 2025 | News, Releases
Tentang Ulang Tahun ke 28 Shaggydog Dengan segala rasa syukur, pada 1 Juni 2025 nanti Shaggydog akan memasuki usia ke-28—sebuah perjalanan yang bermula dari lorong-lorong sempit Kampung Sayidan, Yogyakarta. Dari sana, langkah demi langkah telah Shaggydog jalani, dengan segala jatuh bangun, tawa, dan pelajaran yang tak ternilai. Ulang tahun kali ini Shaggydog memberikan sebuah tema BE28AGI — “karena sejak dulu, yang kami tahu: perjalanan ini hanya mungkin terjadi karena kebersamaan. Karena banyak yang memberi, kami pun belajar untuk berbagi. Dan yang paling dekat di hati, tentu harapan kami agar bisa terus berbagi dengan warga Kampung Sayidan—tempat di mana semua ini bermula. Semoga langkah kecil ini bisa memberi kembali, walau tak sebanding dengan apa yang sudah kami terima sejak awal” jelas Shaggydog. Tentang Milli Tahun 2025 ini, Shaggydog juga memulai babak baru. Di usia yang tak lagi muda, salah satu cita-cita lama mereka pelan-pelan terwujud: sebuah tempat kecil bernama Milli. Sebuah ruang yang diharapkan bisa jadi tempat berproses, berkumpul, dan berbagi—untuk siapa saja. “Milli bukan tentang kami. Ia adalah ruang terbuka. Ada panggung kecil untuk band-band lokal tumbuh bersama, ada meja dan kopi untuk cerita mengalir, dan ada harapan agar siapa pun bisa merasa diterima” terang Shaggydog mengenai tempat yang akan dibuka grand launching-nya 10 Juni 2025 nanti. Sebelumnya Milli juga sudah dipakai untuk venue konser musik baik gigs skala kecil dari band baru maupun lawas, juga launching album mulai dari Bloccalito, Tradisi Gila, Sinten Remen & re-issue vinyl Shaggydog – Kembali Berdansa serta kemeriahan lainnya. “Tempat ini sangat terbuka untuk teman – teman kolektif di skena musik maupun disiplin seni lain yang ingin melakukan aktivasi-nya disini tanpa memandang usia....
by admin | Feb 10, 2025 | News, Releases
Tampaknya tidak ada kata berhenti bagi duo Heruwa a.k.a Poppa Tee dan D’Metz. Setelah mengeluarkan kolaborasi bersama BAP. berjudul Just Dub It, duo Dubyouth ini kembali berkutat mempersiapkan single baru. Dalam rilisan yang diberi judul Rockin’ Steady ini, Dubyouth berkolaborasi dengan Taiwan MC. Taiwan MC adalah seorang musisi reggae/hip-hop/raggamuffin asal Perancis yang telah bekerja sama dengan Chinese Man Records serta berbagai produser lainnya. Karier Taiwan MC dimulai pada tahun 2004 ketika ia memasuki skena jungle dan drum & bass bersama kolektif Cool & Deadly. Pada tahun 2013, ia merilis debut EP-nya, Heavy This Year, dibawah naungan Chinese Man Records. Single Rockin’ Steady menampilkan perpaduan khas Dubyouth yang menggabungkan reggae, musik elektronik, dan bass yang dipadukan dengan gaya vokal raggamuffin penuh energi dari Taiwan MC. Untuk memastikan kualitas audio terbaik, lagu ini dimastering oleh Filip Motovunski, seorang produser dan sound engineer asal Kroasia yang dikenal dalam skena drum & bass serta reggae. Filip sendiri telah bekerja dengan berbagai artis di seluruh Eropa. Selain musiknya yang kuat, elemen visual dalam perilisan ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Artwork untuk single ini dirancang oleh Ferry Gouw, seorang ilustrator, desainer grafis, dan sutradara video asal Indonesia yang berbasis di London. Ia dikenal sebagai art director sekaligus ilustrator untuk proyek-proyek Major Lazer, termasuk album dan serial animasinya. Ferry juga pernah bekerja sama dengan musisi ternama seperti Paul McCartney, Sean Paul, dan Roxy Music. Single Dubyouth feat. Taiwan MC – Rockin’ Steady sudah bisa dinikmati via digital stores mulai 21 Februari 2025 via label DoggyHouse Records milik...