The Brandals  “ERA AGRESSOR”  Showcase Tour Chapter Yogyakarta

The Brandals “ERA AGRESSOR” Showcase Tour Chapter Yogyakarta

iKonser mempersembahkan iKonseria : The Brandals “ERA AGRESSOR” Showcase Tour – Yogyakarta   Sabtu, 21 Mei 2022 Pukul 19.00 WIB   Dibuka oleh : Streetwalker Mad Madmen Roket Tiket Presale 1 : Rp. 50.000 (Sangat terbatas!)   Info venue dan pemesanan tiket hubungi : 08 222 666 4343 atau bisa datang langsung ke tiket box di kantor iKonser dan Rajawali Indonesia   Media Partner : Koloni Gigs Ykvvknd Liar Gigs Hookspace Musik Jogja Mave Magz Heartcorner Doggyhouse Records...
John and The Jail Story Mengenang Jogja Dengan Merilis Single Baru

John and The Jail Story Mengenang Jogja Dengan Merilis Single Baru

Dibentuk di Bali pada 3 Januari 2013, John and The Jail Story dengan cepat mencuri perhatian di kalangan skena musik lokal. Band yang kini terdiri dari John Lano (vokal dan gitar akustik), Iwan Andrean (lead guitar), Okky K. (double bass) dan Andre (drum) ini bercita-cita untuk melanjutkan warisan Johnny Cash, memperjuangkan apa yang mereka yakini: musik yang agresif, penuh gairah, dan semangat budaya Country Rockabilly. Mereka secara konsisten menghadirkan sound musik Country Rockabilly yang terinspirasi oleh para musisi akar musik Country (Johnny Cash, Hank Williams, Waylon Jennings, dan Ray Charles). Setelah merilis album full-length perdana “A Broken Heart Story” tahun 2013 dan album kedua “Story From The East” yang keluar enam tahun kemudian, John and The Jail Story terus bekerja keras untuk mengembangkan karier mereka di ranah musik Country Rockabilly internasional. Perjalanan mereka kemudian mempertemukan dengan salah satu figur yang berada dibalik kemunculan skena musik Punk, Rockabilly dan seni tattoo modern di Indonesia, Athonk (Sapto Raharjo). Athonk pun kemudian menjadi produser John and The Jail Story yang mengantarkan mereka mendapatkan kesepakatan merilis single baru dengan DoggyHouse Records. Inspirasi lagu Jogja (Midnight in Sarkem) ini tercipta karena apa yang dirasakan selama mereka melakukan tour disana bulan Maret lalu. Dalam rangkaian tour tersebut mereka bermain di beberapa venue diantaranya Intermezzo Resto & Cafe, Made Cafe dan Warung Heru. Hal – hal yang dirasakan selama tour tersebut lalu mereka tulis dalam bentuk lirik dan lagu. Mereka ingin agar semua orang yang mendengarnya akan mengerti dan mengingat kembali kenangan akan Jogja sebelum dibuyarkan oleh klithih, layaknya penggalan lirik “suasana indah terasa di setiap sudut kota. Dari selatan sampai utara, dari timur hingga barat...
Slowright Sebarkan MLG Sound di Mini Album BELIEVE

Slowright Sebarkan MLG Sound di Mini Album BELIEVE

Bicara mengenai band Ska dari Malang, Youngster City Rockers sempat mengharubiru sejak 2004. Sempat merilis single Hujan via DoggyHouse Records di bulan Juli 2017, mereka kemudian Vacum. Lucky (Vokal) kemudian membentuk Slowright pada 10 Oktober 2020 bersama Jono (Drum), Raja (Gitar) Aria Black (Trombone), Baihaqi (trompet) dan Peter Rahmani (Bass). Slowright sendiri adalah penggalan kata yang bisa di artikan let it flow (mengalir), take it easy dan relax, yang di kutip dari bahasa slang keseharian. 11 Oktober 2021 Slowright merilis mandiri single Satu dibarengi dengan launching di kota sendiri lanjut promo tour ke Yogyakarta. Di kota inilah mereka dipertemukan dengan DoggyHouse Records yang kemudian bekerjasama untuk merilis single Jejak via kanal digital pada 4 Juni 2021. Setelah peluncuran single Jejak yang diikuti promo tour ke beberapa kota, Slowright kembali masuk studio untuk sebuah mini album. Dalam EP ini Slowright mencoba meramu sesuatu yang tidak biasa dari musik Ska kebanyakan di Indonesia. Setiap personil memiliki pengaruh musik yang mengakar dan berbeda-beda mulai dari Ska, Reggae, Dub, Pop, Jazz, Swing, Rap dan Groove DnB. Semua itu dipadukan tanpa menghilangkan benang merah dari unsur Ska itu sendiri. Dalam mini album yang diberi judul BELIEVE ini, Slowright berkolaborasi dengan beberapa musisi diantaranya MetzDub “Dubyouth”, Awkey dan Lola Mahero (DJ). Selain itu salah satu lagu yang berjudul Slowriders dibuat dengan beberapa versi yang berbeda, diantaranya versi Rap yang dikerjakan oleh Eyesthetic, serta versi Drum & Bass yang diberi sentuhan remix oleh MetzDub. Lagu yang awal terciptanya dari teman-teman Youngster City Rockers ini dibikin beberapa versi karena Slowright ingin Slowriders bisa dinikmati oleh banyak pendengar dari segment yang berbeda-beda. BELIEVE memuat 5 track dimana ada...
Shaggydog Gandeng TAKKA Luncurkan Gravel Bike Signature Series

Shaggydog Gandeng TAKKA Luncurkan Gravel Bike Signature Series

Olahraga bersepeda tampaknya masih akan menjadi trend yang menyehatkan. Perubahan mindset para pesepeda yang awalnya hanya bersepeda karena mengikuti trend kemudian berubah menjadi sebuah kebutuhan. Seiring dengan itu membuat banyak pesepeda yang kemudian ingin membangun sendiri frame sepeda-nya agar sesuai dengan profil tubuh sendiri. Shaggydog menangkap peluang ini dengan menggandeng sebuah produsen frame sepeda, TAKKA Steel Bike. Shaggydog memang band yang sering mengeksplorasi kemungkinan lain di ekosistem musik yang cenderung hanya berkutat di rilisan dan panggung. Sebagai contoh, November 2015 lalu mereka menggelar pameran urban toys yang menyajikan figure Doggy, maskot Shaggydog kolaborasi bersama 10 seniman Yogyakarta. Tahun lalu pun Shaggydog merilis buku biografi-nya sehingga wajar jika mereka kemudian melirik sepeda sebagai sarana ajang berkreasi selain mengajak para Doggies untuk mulai berolahraga. Merk TAKKA bukanlah nama asing di kalangan penghobi sepeda custom. Merk frame asal Karanganyar, Solo ini dimiliki oleh Adhitya Widya Atmadja yang berawal dari sebuah usaha bengkel las spesialis membuat pagar rumah, teralis hingga kanopi. Karena ketidakpuasannya dengan frame sepeda yang dipesan, membuatnya ber-eksperimen membuat frame sendiri yang akhirnya laris manis setelah buka pesanan untuk umum. Beberapa keunggulan produk TAKKA diantaranya penggunaan bahan steel yang menjadikan beban sepeda menjadi lebih rigid disamping keunikan bentuk frame double tube yang mudah dipasangkan dengan aneka parts yang ada di pasaran serta cocok bagi postur tubuh rerata orang Indonesia. Dimulai dari frame jenis sepeda gunung, kini TAKKA sudah merilis beberapa jenis lain, diantaranya tipe Hardtail, folding bike, Minivello, Roadbike, Gravel, dan Full Suspension MTB. Khusus kolaborasi bersama Shaggydog, TAKKA membuat frame tipe Gravel bike. Gravel bike TAKKA seri Shaggydog ini mengadopsi sistem defleksi pipa arm dipadu spiral dan geometri yang pas...

Kaleidoskop DoggyHouse Records 2021

Selamat tinggal 2021, kami berharap 2022 tetap menjadi tahun produktif bagi kita semua. Terima kasih atas apresiasinya! 10 Januari – Podcast WOOF Talk edisi ketiga bersama Malik (Rumah Mesra Sukabumi) rilis di kanal YouTube DoggyHouse Records. 21 Februari – DHR merilis reinterpretasi lagu Shaggydog – Di Sayidan di digital stores. 26 Februari – Single Fajar Merah – Puisi Untuk Adik resmi rilis via digital stores. 30 Maret – Sesi pertama Doggyhouse Studio Session diunggah di kanal YouTube DoggyHouse Records bersama musisi Pop Jawa, Sendy Kurniawan a.k.a Suliz RPM. 9 April – Versi Keroncong dari lagu Shaggydog – Di Sayidan featuring Ndarboy Genk dan OK Puspa Jelita resmi dirilis via digital store. 1 Mei – Fajar Merah kembali merilis single baru via DHR, kali ini menggandeng Bagus Dwi Danto membawakan Ucapkan Kata – Katamu. 1 Juni – Ulang tahun ke 24 Shaggydog sekaligus perilisan video klip lagu Shaggydog – Di Sayidan melalui kanal YouTube TheDoggyTV. 4 Juni – Band Ska asal Malang, SlowRight, menelurkan single berjudul Jejak via DoggyHouse Records dilanjut tour promo single se-antero Jawa Timur. 11-13 Juni – DHR terlibat dalam perayaan Record Store Day 2021 chapter Yogyakarta gelaran Jogja Records Store Club di Balakosa Coffee & Co. Di event ini Shaggydog resmi merilis boxset kaset single Di Sayidan. 18 -19 Agustus – 2 proyek solo dari personel Shaggydog rilis: Heruwa dengan Ngopi Dulu Lah sehari kemudian dilanjut Richad Bernado yang menelorkan single perdana Celengan Jago. 8 Oktober – Dubyouth memoles ulang hits single mereka, Love 2 C U Dance menjadi L2CUDNC2021 dan dirilis di kanal digital. 14 Oktober – Cassette Store Week 2021 digelar di Balakosa Coffee...
Perjalanan 24 Tahun Karier Shaggydog Kini Tertuang Dalam Sebuah Buku Biografi

Perjalanan 24 Tahun Karier Shaggydog Kini Tertuang Dalam Sebuah Buku Biografi

Shaggydog memang tidak ada matinya, mungkin itu salah satu pernyataan yang berlebihan tapi menggambarkan dengan tepat tentang sebuah band yang telah melanglang buana selama 24 tahun dan semakin solid menghasilkan karya. Setelah masuk nominasi AMI Awards 2021 untuk kategori Artis Keroncong Langgam/Ekstra/Kontemporer bersama Ndarboy Genk dan OK Puspa Jelita plus merilis video klip Di Sayidan versi Keroncong, putaran sloki mereka tidak berhenti. Kali ini enam pemuda asal kampung Sayidan ini akan merilis sebuah buku. Buku yang bertema perjalanan sebuah band atau bahkan musik secara umum di Indonesia belumlah begitu banyak. Sebagian besar band dan musisi disini lebih memilih merilis karya berupa lagu daripada dokumentasi tertulis mengenai perjalanan karier mereka. Bukan sebuah fakta yang mencengangkan mengingat dokumentasi juga baru dilirik akhir – akhir ini. Shaggydog mengambil kesempatan ini dengan menggandeng eks jurnalis Kumparan, Ardhana Pragota, untuk menulis ulang perjalanan mereka berkarier. Buku ini terbagi dalam 4 bab: Rude Boy, Boom Ska, Bersinar dan Masih Bersama dimana masing – masing babak menceritakan era penanda perubahan karier serta ditambah bonus session menganalisa Shaggydog melalui data. Bagian demi bagian buku ini digali oleh Pragota dari memori para personil Shaggydog yang sering kali lupa beberapa hal detail (maklum, faktor umur) sehingga tidak jarang mereka saling bersitegang ketika mendengarkan cerita yang berbeda dari point of view masing – masing. Bersama dalam sebuah band selama 24 tahun membuat persahabatan mereka mengental, menjadikan perbedaan pendapat bahkan perseteruan menjadi hal yang bisa dimaklumi. Toh pada akhirnya mereka kembali ke band yang sudah dianggap sebagai rumah. Mulai dari era kegamangan Heruwa ketika pindah dari hiruk pikuk pesta pora-nya Bali ke atmosfer kebudayaan kota Yogyakarta yang tenang, kisah pertemuan anak...