Mentoring Sinergi Suara Hadir di Yogyakarta

Mentoring Sinergi Suara Hadir di Yogyakarta

Sinergi Suara Yogyakarta sukses dijalankan pada 23 November 2025 lalu di Tilasawa. Program Sinergi Suara ini dihadirkan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI berkolaborasi dengan Pophariini dan Langit Musik. Sinergi Suara menghadirkan para mentor untuk membagikan pengalaman seputar strategi membangun karier musik dan rilisan digital yaitu Dimasz Joey selaku Chief of Marketing Officer Mad Haus dan Widi Puradiredja (MALIQ & D’Essentials, CEO Mad Haus). Sementara itu Langit Musik diwakili oleh mentor seperti Adib Hidayat (EVP Digital Music Nuon), Jeffry Feriyanto (Manager Indie & OTT Music Partnership Commercial Nuon), dan Hestaviyasa (Manager Digital Music Partnership Nuon). Program ini hadir untuk memberikan dukungan terhadap para pelaku musik lokal, mulai dari band, grup, solois, hingga kolektif baru. Selain Yogyakarta, Sinergi Suara juga telah dilaksanakan di Makassar, Medan, kemudian lanjut di Bandung dan berakhir di Denpasar. Prima Dectyana selaku Kepala Sub Direktorat Pemasaran dan Komersialisasi Musik, Direktorat Musik, Deputi Bidang Kreativitas Media, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia membuka keseluruhan penyelenggaraan Sinergi Suara Yogyakarta. “Harapan saya mudah-mudahan program ini bisa berguna buat teman-teman semua. Nanti akan ada mentor-mentor yang sangat luar biasa. Digali tanyakan apa pun terkait karya kalian, terkait dengan ekosistem musik. Mudah-mudahan ini bisa menjadi semacam benchmark ke kota-kota yang lain. Untuk nanti kota keempat Bandung dan kelima Bali.” Peserta Sinergi Suara tak hanya berasal dari Yogyakarta, namun juga Madiun adalah Risti Panjali. Ia bercerita tentang bagaimana kotanya memiliki banyak sekali talenta baru yang berpotensi. Dimasz Joey selaku Chief of Marketing Officer Mad Haus yang berkesempatan membuka sesi mentoring memberikan semangat. “Kenapa kita harus berhasil? Supaya lo bisa jadi mercusuar di kota lo. Ada satu bentuk yang real dan...
Heruwa Ajak Sal Priadi Remix Lagu Shaggydog

Heruwa Ajak Sal Priadi Remix Lagu Shaggydog

Tentang Lagu Shaggydog – Insomnia Shaggydog, band yang baru saja berusia 28 tahun pada bulan Juni lalu ini mempunyai banyak lagu hits. Khalayak pasti sudah hafal dengan lagu Di Sayidan yang masuk ke daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia. Sebagaimana band yang sudah berumur panjang dan menciptakan banyak komposisi, tentunya Shaggydog punya lagu yang jarang dimainkan, salah satunya Insomnia. Ada di album Bersinar rilisan Fame tahun 2009, Insomnia termasuk jarang dibawakan di atas panggung mengingat atmosfer lagunya yang mungkin terkesan gloomy untuk ukuran Shaggydog yang selalu membawa vibe riang. Tema lagu yang musiknya diciptakan oleh Richad Bernado ini memang berdasar kebiasaan musisi yang susah tidur karena harus begadang entah sedang tour atau bikin lagu. Tentang Remix Lagu Insomnia Setelah tahun lalu lagu ini dirilis video dalam program Off the Record Vol. 1 dan juga masuk dalam album Shaggydog Live at Milli, kini giliran Heruwa membuat versi remix-nya. Enam belas tahun setelah Insomnia dirilis, akhirnya lagu ini mendapatkan sentuhan yang berbeda dari tangan dingin penulis liriknya. Versi remix ini membawa aura yang lebih trippy dengan karakter khas Bristol sound yang pernah popular di era 90an. Komposisi bass-nya mampu menciptakan irama yang ritmik diimbangi dengan part drum yang sederhana dan fill in synthesizer mengawang menambah kesan atmosfer yang moody. “Lagu ini bisa jadi ga terlalu mudah untuk didengarkan dalam sekali duduk, kalo suasana hatinya ga sesuai” ungkap Heruwa mengenai remix yang artwork-nya dibikin oleh Gilang Lepaskendali Labs ini. Featuring Sal Priadi Lebih seru lagi karena Heruwa mengajak Sal Priadi untuk berkolaborasi. Pelantun Gala Bunga Matahari ini bukanlah orang yang baru bersinggungan dengan Heruwa dan Shaggydog. Kedekatan...
Band Negeri Jiran, Moda Moody Rilis EP & Bersiap Tour ke Indonesia

Band Negeri Jiran, Moda Moody Rilis EP & Bersiap Tour ke Indonesia

Skena Malaysia mungkin banyak kita ketahui melalui musik pop, Melayu maupun rock. Di era 90an lazim kita dengar lantunan suara Sheyla Madjid, band rock Iklim, Search dan yang fenomenal adalah lagu Isabela, kolaborasi antara Amy Search dengan Inka Christi. Tapi jangan salah, negeri Jiran juga banyak menghasilkan beberapa band dari genre lain yang berkualitas, diantaranya adalah band ska yaitu The Corumn, Gerhana Ska Cinta dan juga Moda Moody.   Moda Moody merupakan sekumpulan musisi yang memadukan beberapa genre musik ska, reggae dan indie yang dinamis untuk mewakili identitas mereka. Pada 2007 mereka membentuk Moda Moody mewakili generasi musisi yang terinspirasi budaya lokal maupun global. Moda Moody berdiri sebagai simbol yang menyatukan musik, identitas dan budaya menjadi suara lantang untuk generasi mendatang. Medio Agustus 2007 Moda Moody merilis dua lagu dengan irama ska yang menghentak yaitu “Temanku” dan “Tak Mengerti”. Di tahun yang sama, Moda Moody merilis “Ini Ska”, “Muda Mudi” dan “Nostalgia Pelangi Mimpi” kembali memperkuat gaya khas Moda Moody dengan membaurkan komposisi ska, reggae dengan indierock. Pada Desember 2009 Moda Moody meluncurkan album penuh berjudul “Dan Rudies Terus Menari” yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari, ekspresi diri, persahabatan dan kegembiraan. Debut album yang berisi 10 lagu ini menjadi pengukuhan mereka di blantika musik indie Malaysia.   Di usia yang sudah tak muda lagi, Moda Moody berkesempatan untuk bekerjasama dengan label berbasis di Yogyakarta, DoggyHouse Records, untuk merilis EP bertajuk “Rekam Jejak”. Masih mengusung nuansa ska, reggae dan indie rock, mini album ini berisi 5 lagu yaitu, “Rindu Dihembus Bayu”, “Bodoh”, “Gadisku di Lantai Tari”, “Reggae dan Ska”, serta “Matahari”. Khusus aransemen “Rindu Dihembus Bayu” disisipi langgam keroncong yang senantiasa...
CHERRYPOP FESTIVAL 2025 RESMI RILIS LINE UP FASE KEDUANYA

CHERRYPOP FESTIVAL 2025 RESMI RILIS LINE UP FASE KEDUANYA

Hari pelaksanaan Cherrypop 2025 sudah semakin dekat. Hajatan musik tahunan yang akan digelar pada 9 dan 10 Agustus 2025 di Lapangan Panahan Kenari Yogyakarta kembali merilis line up fase kedua. Dipromotori oleh Swasembada Kreasi, Cherrypop 2025 menyuguhkan deretan musisi terkurasi yang siap memeriahkan beberapa panggung. Pada line up fase kedua ini, Cherrypop 2025 menambah sebanyak 20 penampil yang terbagi dalam 2 hari, di antaranya Bedchamber, Ali, Santet, Om Kacau Balau, The Skit, The Kick, The Melting Minds, Loon, MTAD, Tossing Seed, Megatruh Soundsystem, Malu2x, Dabwok, Coldvvave, Racaw, Broddyfae, King Mas Mus feat. Dubdee Tee, Triggacoca, 505 Tunes, Negatifa, dan Pure Saturday. Cherrypop 2025 Hadir Dengan Empat Panggung Berbeda dari tahun sebelumnya yang menyuguhkan tiga panggung berbeda, yaitu Cherry Stage, Nanaba Stage, dan Yayapa Stage. Namun pada tahun ini, Cherrypop 2025 menambah satu panggung yang diberi nama Chilli Stage. Chilli Stage merupakan panggung yang dirancang khusus untuk membuka ruang bagi format musik di luar struktur band. Panggung ini menjadi ruang perayaan sekaligus representasi atas keanekaragaman praktik bermusik yang semakin ekspresif dan beragam. Chilli Stage akan dibuat dengan konsep intimate gigs, tertutup, dan hanya dapat dikunjungi maksimal 100 orang saja. Hal ini dikarenakan Cherrypop 2025 ingin membangun impresi audiens tentang ragam instrumen yang dipresentasikan oleh musisi penampil. Karcis Cherrypop 2025 masih tersedia melalui situs web resmi. Informasi lebih lanjut mengenai tambahan lineup, program-program aktivasi, serta kejutan lainnya akan diumumkan melalui akun resmi Cherrypop di media sosial @cherrypopfest dan situs web resmi cherrypop.id. Sudah siap menjadi bagian dari perayaan Cherrypop tahun ini?   Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi kontak media: – 0815 6770 8182 (Bayu) – 0851 8238 1300 (Dinar) Email:...
Yogyakarta Gamelan Festival Rayakan 30 Tahun Eksistensi-nya

Yogyakarta Gamelan Festival Rayakan 30 Tahun Eksistensi-nya

Yogyakarta Gamelan Festival merupakan wadah, peristiwa, untuk bertemu sekaligus berkumpulnya para pemain, penikmat, dan pecinta Gamelan. Dan pada 2025 ini YGF memasuki 30 tahun eksistensinya, termasuk 25 tahun Komunitas Gayam 16 berkiprah. Yogyakarta Gamelan Festival ke-30 resmi dibuka dengan gelaran megah Gaung Gamelan. Panggung yang hadir bukan hanya sebagai perhelatan tahunan, melainkan menjadi ruang berekspresi dan kolaborasi lintas generasi dalam gerak budaya yang terus berkembang.  Sebanyak 16 kelompok karawitan dari 10 Desa Budaya binaan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, bersama komunitas gamelan seperti Gayam16 dan Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya (AKNSB), bersatu dalam harmoni memainkan tiga gendhing gaya Yogyakarta secara bersamaan. Gendhing-gendhing tersebut sebelumnya telah dibagikan ke publik dan dipelajari bersama dalam sesi latihan kolaboratif bersama Gayam16.   Dalam semangat kebersamaan, pertunjukan ini tak hanya merayakan kekayaan musik gamelan, tetapi juga memperlihatkan kompleksitas dan keindahan tradisi. Semua bunyi dan dinamika yang tercipta mengalun alami ke telinga penonton, menegaskan keaslian dan kedalaman warisan musikal Nusantara.   “25 tahun Gayam16, penting bukan sekadar selebrasi tahunan. Yogyakarta Gamelan Festival tidak ada itu tidak apa-apa, tetapi yang luar biasa adalah bagaimana teman-teman terpanggil untuk selalu menghadirkan Yogyakarta Gamelan Festival sampai di tahun ke 30 ini” Ungkap Ishari Sahida (Ari Wulu) sebagai Festival Director    “Yogyakarta Gamelan festival adalah peristiwa budaya, denyut nadi Yogyakarta selama tiga dekade. Gamelan bukan hanya suara instrumen tapi juga suara kehidupan, bukan hanya untuk didengar tapi juga untuk dimaknai” tutur Kanjeng Purbodoningrat sebagai penasihat Jogja Festival, menegaskan gamelan sebagai bagian tak terpisahkan dari jiwa kebudayaan di Yogyakarta   Tidak hanya melibatkan para komunitas dan seniman, festival ini juga merangkul berbagai UMKM. Melalui area tenant yang tersedia, pengunjung dapat...
Shaggydog Rilis Album Live at Milli Rayakan 28 Tahun Perjalanan Bermusiknya

Shaggydog Rilis Album Live at Milli Rayakan 28 Tahun Perjalanan Bermusiknya

Tentang Ulang Tahun ke 28 Shaggydog Dengan segala rasa syukur, pada 1 Juni 2025 nanti Shaggydog akan memasuki usia ke-28—sebuah perjalanan yang bermula dari lorong-lorong sempit Kampung Sayidan, Yogyakarta. Dari sana, langkah demi langkah telah Shaggydog jalani, dengan segala jatuh bangun, tawa, dan pelajaran yang tak ternilai. Ulang tahun kali ini Shaggydog memberikan sebuah tema BE28AGI — “karena sejak dulu, yang kami tahu: perjalanan ini hanya mungkin terjadi karena kebersamaan. Karena banyak yang memberi, kami pun belajar untuk berbagi. Dan yang paling dekat di hati, tentu harapan kami agar bisa terus berbagi dengan warga Kampung Sayidan—tempat di mana semua ini bermula. Semoga langkah kecil ini bisa memberi kembali, walau tak sebanding dengan apa yang sudah kami terima sejak awal” jelas Shaggydog. Tentang Milli Tahun 2025 ini, Shaggydog juga memulai babak baru. Di usia yang tak lagi muda, salah satu cita-cita lama mereka pelan-pelan terwujud: sebuah tempat kecil bernama Milli. Sebuah ruang yang diharapkan bisa jadi tempat berproses, berkumpul, dan berbagi—untuk siapa saja. “Milli bukan tentang kami. Ia adalah ruang terbuka. Ada panggung kecil untuk band-band lokal tumbuh bersama, ada meja dan kopi untuk cerita mengalir, dan ada harapan agar siapa pun bisa merasa diterima” terang Shaggydog mengenai tempat yang akan dibuka grand launching-nya 10 Juni 2025 nanti. Sebelumnya Milli juga sudah dipakai untuk venue konser musik baik gigs skala kecil dari band baru maupun lawas, juga launching album mulai dari Bloccalito, Tradisi Gila, Sinten Remen & re-issue vinyl Shaggydog – Kembali Berdansa serta kemeriahan lainnya. “Tempat ini sangat terbuka untuk teman – teman kolektif di skena musik maupun disiplin seni lain yang ingin melakukan aktivasi-nya disini tanpa memandang usia....