Slowright, Band Ska Baru Dari Malang Rilis Single Via DoggyHouse

Slowright, Band Ska Baru Dari Malang Rilis Single Via DoggyHouse

Skena Malang mungkin banyak dikenal sebagai penghasil musik Grindcore, 90’s Metalcore atau akhir – akhir ini, Emo. Tapi jangan salah, kota apel ini juga menghasilkan beberapa band dari genre lain yang berkualitas, diantaranya adalah Youngster City Rockers. Band Ska Punk yang terbentuk 2004 ini pernah merilis single Hujan di DoggyHouse Records (Juli 2017) sebelum akhirnya menghilang. Vokalis mereka, Luki, kemudian membentuk grup baru bernama Slowright. Slowright bermula dari Luki (Vocal, Gitar) bersama Jono (Drum) dan Raja (Gitar) yang menemukan spirit untuk mengumpulkan beberapa teman di tongkrongan bergabung di band baru. Akhirnya bergabunglah Aria Hadi (Trombone), Baihaqi (trompet) dan Peter Rahadi (Bass). Mereka kemudian intens berlatih dan menulis lagu. Pada tanggal 10 Oktober 2020 mereka mengikrarkan diri dalam sebuah band bernama Slowright.  Dengan filosofi pelan tapi pasti terkumpullah beberapa lagu untuk dijadikan album. Tanggal 11 Oktober 2021 Slowright memberanikan diri merilis single dengan judul Satu. Respon publik sangat bagus, sehingga memantapkan mereka untuk terus mewarnai khasanah musik. Sebuah promo tour untuk mempromosikan single Satu mereka siapkan dengan tujuan salah satunya ke kota Jogja. Pada 13 Maret lalu, berlabuhlah mereka di Warung Heru milik vokalis Shaggydog yang kemudian pada akhirnya menghasilkan sebuah deal untuk merilis single baru via label milik Shaggydog, DoggyHouse Records. Memasuki pertengahan tahun 2021 yang penuh dengan badai, Slowright datang menyanyikan harapan baru melalui single Jejak. Dengan masih mengusung musik Ska Punk dibumbui sedikit sentuhan Dub, Slowright mengajak semua untuk tetap tenang karena mereka yakin tidak ada badai yang tidak berlalu, tidak ada perih yang tak terobati. Seperti baris liriknya “Badai yg menghantam pasti berlalu. Dan Aku berdiri menatap ke langit. Melawan semua bayangan” Bekerjasama dengan DoggyHouse Records,...
Ulang Tahun ke 24, Shaggydog Rilis Video Klip & Bocorkan Rencana Rilis Buku

Ulang Tahun ke 24, Shaggydog Rilis Video Klip & Bocorkan Rencana Rilis Buku

1 Juni merupakan tanggal ulang tahun Shaggydog, yang pada tahun ini akan beranjak menjadi 24. Umur yang tidak bisa dibilang muda lagi bagi sebuah band, tapi produktivitas mereka tidak kalah dengan band belia yang masih getol merilis karya. Disaat band lain yang seumuran mengendorkan aktifitas-nya karena pandemi atau malah personilnya bubar satu demi satu, Shaggydog tetap solid berkarya. Tengok saja geliat para pemuda Sayidan ini merombak lagu hits Di Sayidan dalam dua versi sekaligus dimana yang terakhir mereka berkolaborasi dengan Orkes Keroncong Puspa Jelita dan Ndarboy Genk. Bukan urusan mudah untuk merombak sebuah lagu lama yang pernah mengangkat karir mereka untuk kemudian dipoles sesuai karakter musiknya yang sekarang. Kelar merilis ulang lagu yang mempopulerkan nama kampung tengah kota yang terletak di pinggir sungai Code itu, Shaggydog kembali sibuk berkutat menggarap video klip bekerjasama dengan Orang Tua. Video klip yang disutradarai oleh Bagus “Tikus” Kresnawan ini mencoba mengejawantahkan pemaknaan lirik lagu yang bercerita tentang kehidupan “di gang gelap di balik ramainya Jogja” ini. Konsep kembali ke Sayidan di video klip ini diperkuat dengan menampilkan potongan video lawas Shaggydog ketika manggung yang kemudian dipadukan dengan tingkah polah aktor yang membawakan watak khas para personil Shaggydog ketika mereka masih muda. Sebelumnya juga telah dibuka lowongan untuk memerankan karakter Shaggydog muda ini yang disebar via akun Instagram @ShaggydogJogja. Ada adegan seru menggambarkan ketika Bandizt menikmati Lapen di emperan gang Sayidan dengan diiringi gitar Richad Bernado yang merupakan cikal bakal terciptanya lagu ini. Sementara itu selipan cerita tentang percintaan tidak luput dari narasi video klip lagu yang juga masuk di 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia ini. Video musik Shaggydog...
Rilis Klip Can We Talk?, Rasvan Kikoo Mulai Pemanasan Untuk Album Baru

Rilis Klip Can We Talk?, Rasvan Kikoo Mulai Pemanasan Untuk Album Baru

SURABAYA – Tahun 2021 sepertinya jadi tahun yang sibuk bagi Rasvan Kikoo (Raski). Setelah memperkenalkan Kikoo sebagai vokalis baru. Tak lama berselang, mereka melempar debut single Can We Talk? pada Desember 2020 dan lanjut ke perjalanan Coffee Story Tour selama Maret hingga April 2021, hari ini (25/4) giliran duo pop soul asal Surabaya tersebut merilis video klip dari single Can We Talk? melalui kanal Youtube Rasvan Kikoo. Bagi Raski, perilisan klip tersebut jelas menjadi pemanasan bagi mereka untuk menjelang album barunya di tahun ini. Meskipun Can We Talk? tidak masuk dalam songlist rilisannya mendatang, tapi bagi mereka apa yang tersaji di lagu tersebut sudah cukup mewakili warna musik terbaru dari Rasvan Kikoo.   Klip dari Can We Talk? sendiri menampilkan proses workshop serta jamming mereka selama proses rekaman beberapa lagu baru. Video tersebut diambil di Trek House, tempat di mana mereka merekam single tersebut. Melalui video yang dikerjakan oleh Denny Hendrawan dan Iyung ini pula, Raski memberi kejutan dengan kehadiran Alfred the Alien di ending video. “Selama ini si Alfred itu kan gak banyak orang-orang tau bentukannya, nah di MV ini sekalian kita kasih liat,” jelas Kikoo.   Kikoo sendiri mendedikasikan lagu Can We Talk? untuk orang-orang terdekatnya, dan berharap agar siapapun dapat lebih aware terhadap persoalan mental health. “If you can’t be their home, at least be the rest area for them. Please learn how to genuinely care with someone and don’t fake it because they actually know when you fake it.” sambung Kikoo.   Saat ini, Rasvan Kikoo masih sibuk di studio untuk menyelesaikan beberapa track untuk album kedua. Bahkan, satu single baru lagi juga rencananya akan...
Kolaborasi Fajar Merah Dan Bagus Dwi Danto Nyanyikan Ulang Ucapkan Kata-Katamu

Kolaborasi Fajar Merah Dan Bagus Dwi Danto Nyanyikan Ulang Ucapkan Kata-Katamu

Februari lalu Fajar Merah telah merilis musikalisasi puisi Wiji Thukul “Puisi Untuk Adik”. Kali ini musisi asal Solo ini kembali merilis sebuah lagu baru, Ucapkan Kata-Katamu. Fajar sendiri memilih lagu yang sempat dipopulerkan oleh Dialog Dini Hari ini karena “ada 2 hal yang menarik: pertama karena aku nge-fans sama tulisan bapakku dan kedua sama lagu-nya Dialog Dini Hari. Nah itu aku terus nelp Dadang (Dialog Dini Hari –ed) untuk minta ijin bawain ulang lagunya”. Ucapkan Kata-Katamu dibawakan kembali berdasar aransemen musik gubahan trio Pohon Tua, Brozio dan Deny dengan menambahkan beberapa polesan. “Tema dan urutan di lagu-nya sih sama dengan versi Dialog Dini Hari, cuma isian, terutama di bagian akhirnya yang berbeda” ungkap Fajar. Tiupan Saxophone dari Ananda Putra serta Twin Wistle oleh Dwi Mahargini dan aransemen Strings Setyawan Cello membuat versi baru ini terdengar syahdu. Apalagi ditambah padu padan dengan suara khas dari Bagus Dwi Danto  yang sebelumnya dikenal sebagai Sisir Tanah. Fajar memilih Danto sebagai musisi kolaborator “karena sebenarnya aku punya beberapa proyek bareng Danto terutama lagu yang dia bikin untuk aku, tapi belum pernah dirilis. Dengan nuansa lagu Dialog Dini Hari, terlihat karakter vokal Danto gak jauh dari Dadang. Nah, kebetulan pas rekaman single ini di Simple Plant Jogja (restoran vegan milik Bandizt manajer Fajar Merah – ed) terus langsung ajak Danto sebagai bagian dari improvisasi, utak atik gathuk”. Sebelumnya kedua musisi ini memang sudah sering bermain sepanggung sehingga chemistry diantara mereka sudah lama terbentuk. Untuk artwork single-nya sendiri, Fajar memilih Ivana Kurniawati sebagai artworker. Sebelumnya artwork tersebut sudah jadi dan ketika melihat arsip karya Ivana, Fajar tertarik dengan artwork tersebut. “Di gambar itu kan ada...
Shaggydog Ajak Puspa Jelita & Ndarboy Genk Gubah Di Sayidan Versi Keroncong

Shaggydog Ajak Puspa Jelita & Ndarboy Genk Gubah Di Sayidan Versi Keroncong

Tanggal 21 Februari lalu single reinterpretasi Shaggydog – Di Sayidan resmi dirilis di digital stores oleh DoggyHouse Records. Beragam komentar muncul baik dari pendengar lama maupun baru mengenai perubahan komposisi musik yang sangat dipengaruhi progress musikalitas band ini. Mulai dari intro yang berbeda, sound gitar yang lebih nge-Rock sampai ke artwork retro garapan Wok The Rock yang mirip stiker era 90an. Interpretasi lagu ini ternyata tidak hanya berhenti disitu saja. Sebelumnya, beberapa lagu Shaggydog sempat dibikin versi remix oleh musisi lain, misalnya Libertaria yang me-remix Ambilkan Gelas ala Dangdut Elektronika atau malah lagu Rock Da Mic yang sekalian dibikin EP Rock Da Remix dengan beberapa produser musik & DJ diantaranya sir Ari Wvlv, Alex D.P.M.B dan KMKZ (duo-nya Gerald sebelum di Weird Genius). Setelah perdebatan internal yang cukup sengit, akhirnya Shaggydog sepakat untuk membuat versi lain Di Sayidan ke dalam aliran musik Keroncong. Dipilihnya jenis musik Keroncong bukan tanpa sebab karena salah satu personel mereka, Lilik Sugiyarto (keyboard), juga aktif bermain di Orkes Keroncong (OK) Puspa Jelita. “Dulu grup ini didirikan oleh bapak saya (Supardi), tahunnya lupa karena sudah ada sebelum saya lahir. Setelah bapak meninggal terus saya lanjutkan mimpin” jelas Lilik yang juga bermain Piano DX, bass dan organ Hammond  serta vokal latar di versi Keroncong ini. Dalam versi yang diaransemen ulang oleh Lilik Sugiyarto ini, Di Sayidan dibawakan dengan gabungan beberapa variasi modern dari Keroncong mulai gaya Solo sampe Jakarta. “Menurut saya, hampir semua gaya Keroncong terwakilkan di lagu ini bahkan ada unsur etnis Langgam Jawa disitu dengan arransemen yang “ngenomi” (terlihat lebih muda – ed) kalo orang Jawa bilang” tutur Lilik tentang gaya Keroncong yang dibawakan...
Fajar Merah Ajak Semua Orang Saling Bantu Lewat Puisi Untuk Adik

Fajar Merah Ajak Semua Orang Saling Bantu Lewat Puisi Untuk Adik

Fajar Merah, musisi kritis asal kota Solo ini kembali berkarya. Ia menjelma bukan lagi sekedar anak dari seorang aktivis, tapi perlahan mampu berdiri sendiri membangun legacy-nya. Masih berkutat di musikalisasi puisi, Fajar Merah kembali merangkai puisi karya Wiji Thukul “Puisi Untuk Adik”untuk bisa dinyanyikan bersama. Fajar memilih “Puisi Untuk Adik” karena merasa di kesehariannya sering berhadapan dengan orang yang berjuang keras menghadapi kehidupan. Ia sempat merasa bingung dengan kondisi sekarang, apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup. “Apalagi sekarang lagi pandemi, tiap orang merasakan hal yang sama dalam berjuang mempertahankan keluarga-nya masing – masing” ungkapnya. Harapannya sederhana, ketika mendengarkan lagu ini setiap orang bisa saling membantu, saling mendukung untuk melewati masa susah. “Apapun yang terjadi, jangan cuma pasrah. Berbuatlah sesuatu, se-sepele mungkin yang bisa bermanfaat buat kita, misalnya membuat karya” harapnya. Fajar mempunyai formula khusus ketika menginterpretasikan puisi ke dalam lagu-nya. “Lebih ke bagaimana lagu itu bisa berjalan progresif, meminimalisir repetisi kalimat yang sama pada umumnya karena puisi hanya berjalan satu alur saja” jelasnya. Tantangannya adalah bagaimana membuat lagu tersebut tidak membosankan dan tanpa repetisi walaupun hal tersebut diakuinya sulit untuk dihindari. Bagaimana untuk tetap mempertahankan esensi kalimat orisinal yang banyak dirubah. Puisi berupa untaian kata yang ditulis sang ayah, seperti terlihat lebih hidup di tangan Fajar melalui aransemen musik-nya. Baginya, musik adalah alat yang sangat berguna dalam mengkisahkan kembali apa yang ada di dalam hati dan pikiran. Ia-nya mampu menjadi medium untuk bertukar pikiran sembari mendobrak pembatas lapisan strata sosial dan umur. Proses rekaman single ini dimulai November 2020 dan baru kelar Januari 2021 di Pregnant Pause studio, Solo. Video klip-nya yang disutradarai D. Alfiant Hariyanto sudah rilis...