Shaggydog Gandeng TAKKA Luncurkan Gravel Bike Signature Series

Shaggydog Gandeng TAKKA Luncurkan Gravel Bike Signature Series

Olahraga bersepeda tampaknya masih akan menjadi trend yang menyehatkan. Perubahan mindset para pesepeda yang awalnya hanya bersepeda karena mengikuti trend kemudian berubah menjadi sebuah kebutuhan. Seiring dengan itu membuat banyak pesepeda yang kemudian ingin membangun sendiri frame sepeda-nya agar sesuai dengan profil tubuh sendiri. Shaggydog menangkap peluang ini dengan menggandeng sebuah produsen frame sepeda, TAKKA Steel Bike. Shaggydog memang band yang sering mengeksplorasi kemungkinan lain di ekosistem musik yang cenderung hanya berkutat di rilisan dan panggung. Sebagai contoh, November 2015 lalu mereka menggelar pameran urban toys yang menyajikan figure Doggy, maskot Shaggydog kolaborasi bersama 10 seniman Yogyakarta. Tahun lalu pun Shaggydog merilis buku biografi-nya sehingga wajar jika mereka kemudian melirik sepeda sebagai sarana ajang berkreasi selain mengajak para Doggies untuk mulai berolahraga. Merk TAKKA bukanlah nama asing di kalangan penghobi sepeda custom. Merk frame asal Karanganyar, Solo ini dimiliki oleh Adhitya Widya Atmadja yang berawal dari sebuah usaha bengkel las spesialis membuat pagar rumah, teralis hingga kanopi. Karena ketidakpuasannya dengan frame sepeda yang dipesan, membuatnya ber-eksperimen membuat frame sendiri yang akhirnya laris manis setelah buka pesanan untuk umum. Beberapa keunggulan produk TAKKA diantaranya penggunaan bahan steel yang menjadikan beban sepeda menjadi lebih rigid disamping keunikan bentuk frame double tube yang mudah dipasangkan dengan aneka parts yang ada di pasaran serta cocok bagi postur tubuh rerata orang Indonesia. Dimulai dari frame jenis sepeda gunung, kini TAKKA sudah merilis beberapa jenis lain, diantaranya tipe Hardtail, folding bike, Minivello, Roadbike, Gravel, dan Full Suspension MTB. Khusus kolaborasi bersama Shaggydog, TAKKA membuat frame tipe Gravel bike. Gravel bike TAKKA seri Shaggydog ini mengadopsi sistem defleksi pipa arm dipadu spiral dan geometri yang pas...

Kaleidoskop DoggyHouse Records 2021

Selamat tinggal 2021, kami berharap 2022 tetap menjadi tahun produktif bagi kita semua. Terima kasih atas apresiasinya! 10 Januari – Podcast WOOF Talk edisi ketiga bersama Malik (Rumah Mesra Sukabumi) rilis di kanal YouTube DoggyHouse Records. 21 Februari – DHR merilis reinterpretasi lagu Shaggydog – Di Sayidan di digital stores. 26 Februari – Single Fajar Merah – Puisi Untuk Adik resmi rilis via digital stores. 30 Maret – Sesi pertama Doggyhouse Studio Session diunggah di kanal YouTube DoggyHouse Records bersama musisi Pop Jawa, Sendy Kurniawan a.k.a Suliz RPM. 9 April – Versi Keroncong dari lagu Shaggydog – Di Sayidan featuring Ndarboy Genk dan OK Puspa Jelita resmi dirilis via digital store. 1 Mei – Fajar Merah kembali merilis single baru via DHR, kali ini menggandeng Bagus Dwi Danto membawakan Ucapkan Kata – Katamu. 1 Juni – Ulang tahun ke 24 Shaggydog sekaligus perilisan video klip lagu Shaggydog – Di Sayidan melalui kanal YouTube TheDoggyTV. 4 Juni – Band Ska asal Malang, SlowRight, menelurkan single berjudul Jejak via DoggyHouse Records dilanjut tour promo single se-antero Jawa Timur. 11-13 Juni – DHR terlibat dalam perayaan Record Store Day 2021 chapter Yogyakarta gelaran Jogja Records Store Club di Balakosa Coffee & Co. Di event ini Shaggydog resmi merilis boxset kaset single Di Sayidan. 18 -19 Agustus – 2 proyek solo dari personel Shaggydog rilis: Heruwa dengan Ngopi Dulu Lah sehari kemudian dilanjut Richad Bernado yang menelorkan single perdana Celengan Jago. 8 Oktober – Dubyouth memoles ulang hits single mereka, Love 2 C U Dance menjadi L2CUDNC2021 dan dirilis di kanal digital. 14 Oktober – Cassette Store Week 2021 digelar di Balakosa Coffee...
Rilis Klip Can We Talk?, Rasvan Kikoo Mulai Pemanasan Untuk Album Baru

Rilis Klip Can We Talk?, Rasvan Kikoo Mulai Pemanasan Untuk Album Baru

SURABAYA – Tahun 2021 sepertinya jadi tahun yang sibuk bagi Rasvan Kikoo (Raski). Setelah memperkenalkan Kikoo sebagai vokalis baru. Tak lama berselang, mereka melempar debut single Can We Talk? pada Desember 2020 dan lanjut ke perjalanan Coffee Story Tour selama Maret hingga April 2021, hari ini (25/4) giliran duo pop soul asal Surabaya tersebut merilis video klip dari single Can We Talk? melalui kanal Youtube Rasvan Kikoo. Bagi Raski, perilisan klip tersebut jelas menjadi pemanasan bagi mereka untuk menjelang album barunya di tahun ini. Meskipun Can We Talk? tidak masuk dalam songlist rilisannya mendatang, tapi bagi mereka apa yang tersaji di lagu tersebut sudah cukup mewakili warna musik terbaru dari Rasvan Kikoo.   Klip dari Can We Talk? sendiri menampilkan proses workshop serta jamming mereka selama proses rekaman beberapa lagu baru. Video tersebut diambil di Trek House, tempat di mana mereka merekam single tersebut. Melalui video yang dikerjakan oleh Denny Hendrawan dan Iyung ini pula, Raski memberi kejutan dengan kehadiran Alfred the Alien di ending video. “Selama ini si Alfred itu kan gak banyak orang-orang tau bentukannya, nah di MV ini sekalian kita kasih liat,” jelas Kikoo.   Kikoo sendiri mendedikasikan lagu Can We Talk? untuk orang-orang terdekatnya, dan berharap agar siapapun dapat lebih aware terhadap persoalan mental health. “If you can’t be their home, at least be the rest area for them. Please learn how to genuinely care with someone and don’t fake it because they actually know when you fake it.” sambung Kikoo.   Saat ini, Rasvan Kikoo masih sibuk di studio untuk menyelesaikan beberapa track untuk album kedua. Bahkan, satu single baru lagi juga rencananya akan...
Kolaborasi Fajar Merah Dan Bagus Dwi Danto Nyanyikan Ulang Ucapkan Kata-Katamu

Kolaborasi Fajar Merah Dan Bagus Dwi Danto Nyanyikan Ulang Ucapkan Kata-Katamu

Februari lalu Fajar Merah telah merilis musikalisasi puisi Wiji Thukul “Puisi Untuk Adik”. Kali ini musisi asal Solo ini kembali merilis sebuah lagu baru, Ucapkan Kata-Katamu. Fajar sendiri memilih lagu yang sempat dipopulerkan oleh Dialog Dini Hari ini karena “ada 2 hal yang menarik: pertama karena aku nge-fans sama tulisan bapakku dan kedua sama lagu-nya Dialog Dini Hari. Nah itu aku terus nelp Dadang (Dialog Dini Hari –ed) untuk minta ijin bawain ulang lagunya”. Ucapkan Kata-Katamu dibawakan kembali berdasar aransemen musik gubahan trio Pohon Tua, Brozio dan Deny dengan menambahkan beberapa polesan. “Tema dan urutan di lagu-nya sih sama dengan versi Dialog Dini Hari, cuma isian, terutama di bagian akhirnya yang berbeda” ungkap Fajar. Tiupan Saxophone dari Ananda Putra serta Twin Wistle oleh Dwi Mahargini dan aransemen Strings Setyawan Cello membuat versi baru ini terdengar syahdu. Apalagi ditambah padu padan dengan suara khas dari Bagus Dwi Danto  yang sebelumnya dikenal sebagai Sisir Tanah. Fajar memilih Danto sebagai musisi kolaborator “karena sebenarnya aku punya beberapa proyek bareng Danto terutama lagu yang dia bikin untuk aku, tapi belum pernah dirilis. Dengan nuansa lagu Dialog Dini Hari, terlihat karakter vokal Danto gak jauh dari Dadang. Nah, kebetulan pas rekaman single ini di Simple Plant Jogja (restoran vegan milik Bandizt manajer Fajar Merah – ed) terus langsung ajak Danto sebagai bagian dari improvisasi, utak atik gathuk”. Sebelumnya kedua musisi ini memang sudah sering bermain sepanggung sehingga chemistry diantara mereka sudah lama terbentuk. Untuk artwork single-nya sendiri, Fajar memilih Ivana Kurniawati sebagai artworker. Sebelumnya artwork tersebut sudah jadi dan ketika melihat arsip karya Ivana, Fajar tertarik dengan artwork tersebut. “Di gambar itu kan ada...
Fajar Merah Ajak Semua Orang Saling Bantu Lewat Puisi Untuk Adik

Fajar Merah Ajak Semua Orang Saling Bantu Lewat Puisi Untuk Adik

Fajar Merah, musisi kritis asal kota Solo ini kembali berkarya. Ia menjelma bukan lagi sekedar anak dari seorang aktivis, tapi perlahan mampu berdiri sendiri membangun legacy-nya. Masih berkutat di musikalisasi puisi, Fajar Merah kembali merangkai puisi karya Wiji Thukul “Puisi Untuk Adik”untuk bisa dinyanyikan bersama. Fajar memilih “Puisi Untuk Adik” karena merasa di kesehariannya sering berhadapan dengan orang yang berjuang keras menghadapi kehidupan. Ia sempat merasa bingung dengan kondisi sekarang, apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup. “Apalagi sekarang lagi pandemi, tiap orang merasakan hal yang sama dalam berjuang mempertahankan keluarga-nya masing – masing” ungkapnya. Harapannya sederhana, ketika mendengarkan lagu ini setiap orang bisa saling membantu, saling mendukung untuk melewati masa susah. “Apapun yang terjadi, jangan cuma pasrah. Berbuatlah sesuatu, se-sepele mungkin yang bisa bermanfaat buat kita, misalnya membuat karya” harapnya. Fajar mempunyai formula khusus ketika menginterpretasikan puisi ke dalam lagu-nya. “Lebih ke bagaimana lagu itu bisa berjalan progresif, meminimalisir repetisi kalimat yang sama pada umumnya karena puisi hanya berjalan satu alur saja” jelasnya. Tantangannya adalah bagaimana membuat lagu tersebut tidak membosankan dan tanpa repetisi walaupun hal tersebut diakuinya sulit untuk dihindari. Bagaimana untuk tetap mempertahankan esensi kalimat orisinal yang banyak dirubah. Puisi berupa untaian kata yang ditulis sang ayah, seperti terlihat lebih hidup di tangan Fajar melalui aransemen musik-nya. Baginya, musik adalah alat yang sangat berguna dalam mengkisahkan kembali apa yang ada di dalam hati dan pikiran. Ia-nya mampu menjadi medium untuk bertukar pikiran sembari mendobrak pembatas lapisan strata sosial dan umur. Proses rekaman single ini dimulai November 2020 dan baru kelar Januari 2021 di Pregnant Pause studio, Solo. Video klip-nya yang disutradarai D. Alfiant Hariyanto sudah rilis...