by admin | Feb 5, 2026 | News, Releases
Skena musik Yogyakarta memang dikenal sebagai laboratorium bermusik yang kolaboratif. Banyak band dan musisi di Jogja yang bersama – sama mengeksplorasi musik tanpa mengenal batas genre dan generasi. Lingkungan yang mendukung suasana ini membuat kolaborasi musisi antar genre dan generasi menjadi sesuatu yang umum terjadi di kota gudeg. Member band dari skena underground nongkrong bareng musisi dari lingkup industri nasional, tidak jarang saling bertukar gelas minuman. Banyak dari obrolan casual di tongkrongan ini yang kemudian memunculkan ide kolaborasi. Mulai dari Shaggydog yang menggaet NDX AKA di lagu bernuansa dangdut, Ambilkan Gelas, atau Ndarboy Genk yang berkontribusi di versi keroncong-nya Di Sayidan. Kini Shaggydog kembali dengan single baru yang mengajak Rebellion Rose dan The Glad. Lagu bertajuk Lodse ini menggambarkan nuansa guyub rukun anak – anak band di Jogja yang tidak memandang genre dan generasi. “Band kalo udah lama tapi masih pengen relevan dengan kondisi sekarang ya perbanyak komunikasi dengan mereka yang lebih muda, berkolaborasi bukan kompetisi mulu” ujar Shaggydog mengenai alasan mereka mengajak kedua band beda generasi tersebut. Bayangkan Shaggydog yang identik dengan musik ska generasi awal, bersama sekumpulan skinhead anti nganggur yang tergabung dalam The Glad juga generasi baru punk rock yang diwakili Rebellion Rose. Diciptakan oleh Raymond gitaris Shaggydog, lodse berasal dari bahasa walikan (slang) yang artinya ngombe (minum). “Ide-nya muncul pas ada kegiatan teman – teman yang kumpul bareng, muterin gelas terus dari situ banyak pertukaran ide atau malah cuma sekedar wacana, lalu kemudian muncul inisiatif kenapa ga dibikin lagu aja?” ujar Raymond tentang tema awal lagu yang banyak memuat lirik bahasa Jawa ini. Ketika proses rekaman dimulai di studio Doggy House, muncul momen kelucuan yang...
by admin | Oct 21, 2019 | News
Shaggydog kembali menelurkan sebuah single berjudul ‘Jangan Gontok-Gontokan’. Sesuai judulnya, lagu terbaru ciptaan band Ska asal Yogyakarta mengajak kita semua untuk merayakan perbedaan dengan ceria, tanpa perlu menjadikannya masalah hingga berujung amarah. Lagu ini sejatinya lahir di tengah hajatan politik Pemilu 2019 yang puncaknya berlangsung April lalu. Di tengah kesibukan bermusik, kami sebagai warga negara mengamati bagaimana pesta demokrasi justru bukan perayaan yang menyenangkan. Hal tersebut ternyata menimbulkan efek negatif yang bisa kita lihat sehari-hari. Rakyat Indonesia menjadi terkotakkan, terbelah menjadi banyak golongan yang saling sikut. Antara teman bahkan sesama saudara pun tidak luput dari saling gontok. Kebencian tumbuh subur tidak terbendung. Gesekan merambah dunia maya lewat hoaks bertebaran sosial media. Perbedaan yang seharusnya dirayakan sebagai berkah bukan lagi hal yang seru. “Keragaman suku dan budaya di bangsa ini tentu menjadi sebuah gem bagi kita semua, kekayaan yang tak ternilai,” kata vokalis Shaggydog, Heru Wahyono. Shaggydog berharap agar setelah ini tidak ada lagi kebencian. Seperti tertuang pada lirik, “Jangan gontok gontokan, hormati perbedaan, jangan gontok-gontokan, hapuskan kebencian”. Para kugiran Ska ini juga menyarankan supaya “molotov menyala berganti dengan bunga, orasi kebencian berganti nada cinta”. Kini Pemilu sudah selesai, anggota DPR baru sudah mulai bekerja, dan presiden dan wakil presiden pun besok bakal dilantik. Seharusnya sudah tidak ada lagi kubu 01 dan 02, cebong dan kampret. Perbedaan pendapat tentu saja masih ada, itu tidak masalah, tapi apakah masih harus ada gontok – gontokan? Sambil berdendang alunan khas musik Ska yang dipadu dengan Dangdut, Heruwa memasukkan toasting dengan menambahkan bahwa berbeda itu sudah biasa. “Mari kita singkirkan kepentingan pribadi, mari jaga bersama, jaga ibu pertiwi”. Single ‘Jangan Gontok-Gontokan’ yang merupakan bagian...
by admin | Jul 19, 2018 | News
Seperti yang kita ketahui, Albert Gerson unFinit, atau dikenal dengan nama panggung Black Finit baru saja merilis sebuah single berjudul “Bukan Puisi” yang bisa dibaca disini. Lagu ini dirilis via digital pada tanggal 1 Juni 2018 bertepatan dengan ulang tahun ke 21 Shaggydog, sang empu DoggyHouse Records yang menaunginya. Lirik “Bukan Puisi” yang diciptakan oleh seniman fotografi kontemporer, Angki Purbandono, bercerita tentang seseorang yang mensyukuri kehidupan dengan segala keindahan alam semesta dan segala keberagaman manusianya. Sebagai manusia yang mempunyai banyak teman yang saling menghormati karena saling menjunjung tinggi toleransi walaupun mempunyai pandangan hidup yang berbeda. Agama, suku, ras bahkan pilihan politik yang berbeda seharusnya bukan menjadi sebuah halangan untuk tetap menjaga nyala api toleransi terhadap keberagaman di Indonesia saat ini. Adalah Prawirotaman, sebuah area internasional yang dipadati oleh para wisatawan dari segala pejuru dunia. Kampung turis di Yogyakarta ini adalah tempat yang pas sebagai representasi keinginan manusia untuk mencari teman baru dari segala macam agama, suku dan ras. Prawirotaman sendiri menyelenggarakan sebuah festival budaya yang diisi oleh warga serta paguyuban pengusaha di lingkungan tersebut. Perayaan yang dikenal sebagai Prawirotaman Fest ini menyuguhkan kirab budaya serta pertunjukkan yang diselenggarakan di jalanan Prawirotaman 1 dan 2. Untuk tahun 2018, festival ini akan digelar pada tanggal 21-22 Juli 2018 mulai pukul 1 siang – 12 malam. Black Finit selama ini dikenal sebagai salah satu musisi yang sering wara-wiri bermain di pub-pub se-antero Prawirotaman sehingga menjadi hal yang wajar bila konser-nya pun diselenggarakan bertepatan dengan Prawirotaman Fest. Bertajuk Black Finit – Street Concert, pertunjukan ini bertempat di halaman Playon dimana Black Finit akan menyajikan beberapa nomor hits termasuk single Bukan Puisi di hari...
by admin | Jun 16, 2017 | News
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, DoggyHouse Records akan merilis sebuah single terbaru sekaligus untuk merayakan Lebaran ala musisi. Single ini adalah milik Youngster City Rockers (YCR), unit Ska Punk asal kota apel yang telah malang melintang di skena music Ska tanah air sejak pertengan Agustus 2006. Terbentuk dari pecahan dua band yang terlebih dahulu muncul, Bullshit Tomatoes dan High Skunx School, pergantian personil tidak lepas dari roda perputaran mereka. Formasi YCR saat ini terdiri dari 8 orang personil, mereka adalah Bagus Prasetya (Trombone), Fahreza Al Haqqi (Saxophone), Aria Rahadi (Trumpet), Cahaya Satya (Guitar), Zulmy Sulaiman (Bass), Badea Christian (Drum), Theodorus Radityo (Guitar) dan Lucky Juligananda (Vocal). Band yang album pertama-nya bertajuk Into Deep dirilis oleh Youngster City Rockers secara mandiri pada pertengahan 2014 ini dikenal sering memakai music mereka untuk menyebarkan pesan mengenai kerusakan alam dan lingkungan sekitar. Di single terbaru berjudul Hujan ini mereka kembali membawakan pesan mengenai fenomena alam yang seolah mendatangkan secercah harapan. Bahwa setelah hujan selalu muncul pelangi yang penuh warna-warni. Para pemuda rocker kota yang pada awal karier-nya sering membawakan cover song dari Suicide Machines dan Potshot ini kembali merangkul penikmat music tanah air dengan irama Ska yang catchy dan lirik berbahasa Indonesia yang mudah diingat. Dengan baris kalimat semacam “bukan sekadar hujan, tetapi bagaimana kita menari disaat petir datang” tidak dipungkiri komposisi mereka terdengar renyah di telinga. Single Hujan ini akan resmi dirilis DoggyHouse Records dengan format digital free download yang bisa diunduh secara gratis dan legal di: www.doggyhouserecords.com mulai tanggal 25 Juni 2017. Saat ini YCR sedang mencoba merampungkan rekaman untuk materi album kedua mereka yang direncanakan akan rilis tahun...
by admin | Mar 27, 2017 | News
Tentunya kita masih teringat dengan single Samiya, sebuah kolaborasi dari para dedengkot dua band sidestream paling berbahaya di Indonesia: Heruwa “Shaggydog” dan Jerinx “Superman Is Dead”. Kini Heruwa kembali melemparkan sebuah lagu jagoan baru yang iramanya tidak berseberangan jauh dari Samiya. Lagu yang diberi judul Senyawa Alam ini masih lekat dengan rancak musik Elektronik yang dibalut dengan kearifan lokal dan tema alam. Dibuka dengan tembang Macapat yang dilagukan oleh cengkok seorang sinden, nuansa gamelan masih terasa erat melekat. Tapi bukan Heruwa namanya kalau menganggap bahwa single yang dimastering oleh Rangga ‘Egha’ Sang Eshayoga ini akan sama dengan hasil karya-nya yang lain. Proses dalam mendapatkan racikan komposisi disini terasa lebih spesial karena vokalis band pioner Ska di Indonesia ini ditantang untuk turun ke alam. Ya, dalam mendapatkan sample untuk lagu yang pernah dipakai untuk iklan video #ProjectPassion (Diplomat Mild) bersama Erix Soekamti ini, Heruwa memindahkan studio di kamarnya keluar ruangan dan berinteraksi langsung dengan alam semesta. Contoh suara yang didapat pun bukan lagi hasil olahan komputer tetapi didapatkan dari suara yang disediakan gratis oleh alam. Gaung benturan batu vulkanik di gunung Merapi, riuh rancak-nya pengamen angklung di titik nol km Tugu, olahan perkusi dari cadik perahu di laut selatan, adalah sebagian kecil dari elemen suara yang dikumpulkan dari lima ‘sumbu imajiner’ Yogyakarta yaitu gunung Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Laut Selatan. Pada departemen artwork yang dikerjakan oleh Gilang Kusuma Wardhana, tema-nya mencoba mengadaptasi karya lukisan berjudul Gunung Merapi Meletus di Malam Hari karya Raden Saleh. “Saya ditantang untuk menjadi ‘pesulap’ di project ini. Saya merekam apa saja yang saya jumpai di jalan bersama Erix Soekamti. Misal, suara mangkok penjual bubur...