Tonton Bagaimana Slowright Memaknai Alunan Ska Melalui MV Terbaru Mereka

Tonton Bagaimana Slowright Memaknai Alunan Ska Melalui MV Terbaru Mereka

Slowright, band Ska Punk asal Malang yang baru saja melempar EP terbaru-nya via DoggyHouse Records ini sempat melakukan promo tour di Yogyakarta 24 Juni lalu. Gig Stray Cats Skank yang menampilkan 4 band Ska dari Jogja dan Malang ini adalah acara amal yang seluruh pendapatannya dialokasikan ke program steril dari Animal Friends Jogja untuk kucing jalanan. Band yang beranggotakan Lucky (Vokal), Jono (Drum), Raja (Gitar) Aria Black (Trombone), Baihaqi (trompet) dan Peter Rahmani (Bass) ini melepas video musik untuk single andalan mereka berjudul Slowriders. Lagu gacoan di mini album Believe ini dibuat dengan beberapa versi yang berbeda, diantaranya versi Rap yang dikerjakan oleh Eyesthetic, serta versi Drum & Bass yang diberi sentuhan remix oleh MetzDub. Pada pembuatan video klip Slowriders, Slowright bekerjasama dengan Black Magic sebagai production house. Dari berbagai ide dan konsep mereka tuangkan bersama Black Magic, terpilihlah konsep “point of view” yang beberapa teknik pengambilan gambar-nya lebih fokus pada detail gambar yang bertujuan untuk menunjukkan ekspresi personil band dan alat musik yang dimainkan. Dalam proses editing pun editor Deni Hendra memilih konsep cut-to-cut yang lebih cepat membuat video tersebut semakin enjoy ditonton, grading yang dipilih pun menggunakan tone warna klasik dipadukan dengan transisi yang sedikit garang. Dalam hal properti band performance dibuat se simple mungkin menggunakan lighting warna-warni dibantu asap yang sedikit tebal agar lighting terasa lebih hidup. Studio yang dipilih pun juga berwarna netral dengan background putih polos agar terkesan minimalis. Layaknya sepenggal kutipan dari lirik Slowriders “Dont Stop the Music and Sound. Dont Stop The Beat Of The Drum. Dont Stop The Body Moving Around. Let you fellin make you go around and around”. “Karena...
Slowright Sebarkan MLG Sound di Mini Album BELIEVE

Slowright Sebarkan MLG Sound di Mini Album BELIEVE

Bicara mengenai band Ska dari Malang, Youngster City Rockers sempat mengharubiru sejak 2004. Sempat merilis single Hujan via DoggyHouse Records di bulan Juli 2017, mereka kemudian Vacum. Lucky (Vokal) kemudian membentuk Slowright pada 10 Oktober 2020 bersama Jono (Drum), Raja (Gitar) Aria Black (Trombone), Baihaqi (trompet) dan Peter Rahmani (Bass). Slowright sendiri adalah penggalan kata yang bisa di artikan let it flow (mengalir), take it easy dan relax, yang di kutip dari bahasa slang keseharian. 11 Oktober 2021 Slowright merilis mandiri single Satu dibarengi dengan launching di kota sendiri lanjut promo tour ke Yogyakarta. Di kota inilah mereka dipertemukan dengan DoggyHouse Records yang kemudian bekerjasama untuk merilis single Jejak via kanal digital pada 4 Juni 2021. Setelah peluncuran single Jejak yang diikuti promo tour ke beberapa kota, Slowright kembali masuk studio untuk sebuah mini album. Dalam EP ini Slowright mencoba meramu sesuatu yang tidak biasa dari musik Ska kebanyakan di Indonesia. Setiap personil memiliki pengaruh musik yang mengakar dan berbeda-beda mulai dari Ska, Reggae, Dub, Pop, Jazz, Swing, Rap dan Groove DnB. Semua itu dipadukan tanpa menghilangkan benang merah dari unsur Ska itu sendiri. Dalam mini album yang diberi judul BELIEVE ini, Slowright berkolaborasi dengan beberapa musisi diantaranya MetzDub “Dubyouth”, Awkey dan Lola Mahero (DJ). Selain itu salah satu lagu yang berjudul Slowriders dibuat dengan beberapa versi yang berbeda, diantaranya versi Rap yang dikerjakan oleh Eyesthetic, serta versi Drum & Bass yang diberi sentuhan remix oleh MetzDub. Lagu yang awal terciptanya dari teman-teman Youngster City Rockers ini dibikin beberapa versi karena Slowright ingin Slowriders bisa dinikmati oleh banyak pendengar dari segment yang berbeda-beda. BELIEVE memuat 5 track dimana ada...
Perjalanan 24 Tahun Karier Shaggydog Kini Tertuang Dalam Sebuah Buku Biografi

Perjalanan 24 Tahun Karier Shaggydog Kini Tertuang Dalam Sebuah Buku Biografi

Shaggydog memang tidak ada matinya, mungkin itu salah satu pernyataan yang berlebihan tapi menggambarkan dengan tepat tentang sebuah band yang telah melanglang buana selama 24 tahun dan semakin solid menghasilkan karya. Setelah masuk nominasi AMI Awards 2021 untuk kategori Artis Keroncong Langgam/Ekstra/Kontemporer bersama Ndarboy Genk dan OK Puspa Jelita plus merilis video klip Di Sayidan versi Keroncong, putaran sloki mereka tidak berhenti. Kali ini enam pemuda asal kampung Sayidan ini akan merilis sebuah buku. Buku yang bertema perjalanan sebuah band atau bahkan musik secara umum di Indonesia belumlah begitu banyak. Sebagian besar band dan musisi disini lebih memilih merilis karya berupa lagu daripada dokumentasi tertulis mengenai perjalanan karier mereka. Bukan sebuah fakta yang mencengangkan mengingat dokumentasi juga baru dilirik akhir – akhir ini. Shaggydog mengambil kesempatan ini dengan menggandeng eks jurnalis Kumparan, Ardhana Pragota, untuk menulis ulang perjalanan mereka berkarier. Buku ini terbagi dalam 4 bab: Rude Boy, Boom Ska, Bersinar dan Masih Bersama dimana masing – masing babak menceritakan era penanda perubahan karier serta ditambah bonus session menganalisa Shaggydog melalui data. Bagian demi bagian buku ini digali oleh Pragota dari memori para personil Shaggydog yang sering kali lupa beberapa hal detail (maklum, faktor umur) sehingga tidak jarang mereka saling bersitegang ketika mendengarkan cerita yang berbeda dari point of view masing – masing. Bersama dalam sebuah band selama 24 tahun membuat persahabatan mereka mengental, menjadikan perbedaan pendapat bahkan perseteruan menjadi hal yang bisa dimaklumi. Toh pada akhirnya mereka kembali ke band yang sudah dianggap sebagai rumah. Mulai dari era kegamangan Heruwa ketika pindah dari hiruk pikuk pesta pora-nya Bali ke atmosfer kebudayaan kota Yogyakarta yang tenang, kisah pertemuan anak...
RILIS “CAN WE TALK?”, RASVAN AOKI GANDENG KIKOO SAJIKAN NUANSA POETRY-DUB

RILIS “CAN WE TALK?”, RASVAN AOKI GANDENG KIKOO SAJIKAN NUANSA POETRY-DUB

Sebagian dari kita tentunya masih ingat dengan duo asal Surabaya, Rasvan Aoki, yang pada tahun 2018 lalu sempat mengharu biru blantika skena indie lokal dengan album Tyaga. Ke delapan lagu di album tersebut adalah buah totalitas Rasvan dan Aoki dalam menciptakan sebuah karya musik yang tulus. Tanggal 4 Desember 2020 nanti Rasvan Aoki  akan merilis single terbaru “Can We Talk?” mengandeng pendatang baru Kikoo  dan  Alfred The Alien yang mengisi bagian rap pada lagu ini, dan bisa dibilang lagu ini mengusung musik genre Dub Reggae/ Poetry-Dub, yaitu penggabungan syair/ puisi dengan musik dub Reggae yang identik dengan delay, reverb dan dub over dub. Bersama dengan Kikoo yang merupakan penyanyi/ penulis lagu pendatang baru wanita asal Sorowako (Sulawesi Selatan) ini membawakan lagu “Can We Talk?” yang ditulis olehnya. Lagu ini menggambarkan tentang situasi yang pernah ia alami, saat berada di situasi early 20’s dimana saat itu ia tengah berperang dengan batin yaitu antara childish side vs mature side dirinya. Kikoo mendedikasikan lagu “Can We Talk” untuk orang-orang terdekatnya, dan berharap agar siapapun dapat lebih aware terhadap persoalan mental health. “if you can’t be their home, at least be the rest area for them. Please learn how to genuinely care with someone and don’t fake it because they actually know when you fake it.” kata Kikoo. Menariknya, pertemuan dengan Kikoo di awal masa pandemi tergolong cepat dan tidak disangka. Kehadiran Kikoo berawal di awal tahun 2020, saat Vajra Aoki memutuskan untuk istirahat selama hamil dan Kikoo menggantikan Vajra untuk sementara. Setelah melahirkan, Vajra Aoki memutuskan untuk tidak melanjutkan perannya di Rasvan Aoki. Saat ini, Rasvan berperan sebagai Produser sedangkan Kikoo sendiri...
Banyak Permintaan, Shaggydog Sajikan Kembali Konser Ultah ke 23

Banyak Permintaan, Shaggydog Sajikan Kembali Konser Ultah ke 23

Bulan Juni lalu Shaggydog menggelar 23LOAD Concert untuk merayakan ulang tahun ke 23-nya. Konser daring yang dilaksanakan bekerjasama dengan perusahaan di bidang Teknologi Informasi, Citraweb dan Citranet, serta didukung oleh iLine dan panggungdigital.id ini terbilang sukses dari segi tehnis pelaksanaan. Sesi kolaborasi lintas benua dengan Dr. Ring Ding yang sedang berada di Jerman pun berjalan dengan mulus tanpa putus berkat koneksi internet broadband milik penyedia jaringan internet, CitraWeb. Beberapa media massa mengulas tentang bagusnya kualitas konser ini. Kompas di edisi hari Rabu, 1 Juli 2020, bahkan menulis tentang kualitas gambar dan suara konser ini sebagai “standar pertunjukan langsung via internet, yang belakangan sedang jadi tren.” Pertunjukan daring ini memang rencana-nya hanya ditayangkan sekali, tapi dengan diberlakukannya  kembali PSBB (yang mempengaruhi ekosistem konser musik) selain permintaan fans yang ingin menyaksikan kembali, selama fase kedua work from home, membuat opsi tayang ulang dimunculkan. “Di sosial media kami beberapa fans sering menanyakan, apa bisa konser-nya dibikin rerun karena mereka gak sempat nonton live pas itu, entah karena kerjaan atau lupa belum beli tiket, jadi ya sudah sekalian saja” ungkap Heruwa mengenai keputusan tayang ulang. Akhirnya disepakati tayang ulang konser 23LOAD Shaggydog akan diputar tanggal 3 Oktober 2020, jam 20.00 WIB. Calon penonton bisa membeli tiket rerun seharga Rp. 23.000 melalui www.doggyhouserecords.com mulai 24 September 2020, pukul 12.00 WIB. Tiket tersebut nantinya bisa digunakan untuk mendapatkan voucher diskon 23% di toko merchandise Shaggydog, Doggy Shop. BELI TIKET DISINI Bakal ada yang berbeda dari tayang ulang ini, dimana para personil Shaggydog akan memandu pemutaran ulang konser dengan celotehan khas mereka. Selain itu akan ada sesi tambahan berupa live akustik beberapa lagu hits mereka, yang...