by admin | Jul 22, 2025 | News, Releases
Skena Malaysia mungkin banyak kita ketahui melalui musik pop, Melayu maupun rock. Di era 90an lazim kita dengar lantunan suara Sheyla Madjid, band rock Iklim, Search dan yang fenomenal adalah lagu Isabela, kolaborasi antara Amy Search dengan Inka Christi. Tapi jangan salah, negeri Jiran juga banyak menghasilkan beberapa band dari genre lain yang berkualitas, diantaranya adalah band ska yaitu The Corumn, Gerhana Ska Cinta dan juga Moda Moody. Moda Moody merupakan sekumpulan musisi yang memadukan beberapa genre musik ska, reggae dan indie yang dinamis untuk mewakili identitas mereka. Pada 2007 mereka membentuk Moda Moody mewakili generasi musisi yang terinspirasi budaya lokal maupun global. Moda Moody berdiri sebagai simbol yang menyatukan musik, identitas dan budaya menjadi suara lantang untuk generasi mendatang. Medio Agustus 2007 Moda Moody merilis dua lagu dengan irama ska yang menghentak yaitu “Temanku” dan “Tak Mengerti”. Di tahun yang sama, Moda Moody merilis “Ini Ska”, “Muda Mudi” dan “Nostalgia Pelangi Mimpi” kembali memperkuat gaya khas Moda Moody dengan membaurkan komposisi ska, reggae dengan indierock. Pada Desember 2009 Moda Moody meluncurkan album penuh berjudul “Dan Rudies Terus Menari” yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari, ekspresi diri, persahabatan dan kegembiraan. Debut album yang berisi 10 lagu ini menjadi pengukuhan mereka di blantika musik indie Malaysia. Di usia yang sudah tak muda lagi, Moda Moody berkesempatan untuk bekerjasama dengan label berbasis di Yogyakarta, DoggyHouse Records, untuk merilis EP bertajuk “Rekam Jejak”. Masih mengusung nuansa ska, reggae dan indie rock, mini album ini berisi 5 lagu yaitu, “Rindu Dihembus Bayu”, “Bodoh”, “Gadisku di Lantai Tari”, “Reggae dan Ska”, serta “Matahari”. Khusus aransemen “Rindu Dihembus Bayu” disisipi langgam keroncong yang senantiasa...
by admin | May 27, 2025 | News, Releases
Tentang Ulang Tahun ke 28 Shaggydog Dengan segala rasa syukur, pada 1 Juni 2025 nanti Shaggydog akan memasuki usia ke-28—sebuah perjalanan yang bermula dari lorong-lorong sempit Kampung Sayidan, Yogyakarta. Dari sana, langkah demi langkah telah Shaggydog jalani, dengan segala jatuh bangun, tawa, dan pelajaran yang tak ternilai. Ulang tahun kali ini Shaggydog memberikan sebuah tema BE28AGI — “karena sejak dulu, yang kami tahu: perjalanan ini hanya mungkin terjadi karena kebersamaan. Karena banyak yang memberi, kami pun belajar untuk berbagi. Dan yang paling dekat di hati, tentu harapan kami agar bisa terus berbagi dengan warga Kampung Sayidan—tempat di mana semua ini bermula. Semoga langkah kecil ini bisa memberi kembali, walau tak sebanding dengan apa yang sudah kami terima sejak awal” jelas Shaggydog. Tentang Milli Tahun 2025 ini, Shaggydog juga memulai babak baru. Di usia yang tak lagi muda, salah satu cita-cita lama mereka pelan-pelan terwujud: sebuah tempat kecil bernama Milli. Sebuah ruang yang diharapkan bisa jadi tempat berproses, berkumpul, dan berbagi—untuk siapa saja. “Milli bukan tentang kami. Ia adalah ruang terbuka. Ada panggung kecil untuk band-band lokal tumbuh bersama, ada meja dan kopi untuk cerita mengalir, dan ada harapan agar siapa pun bisa merasa diterima” terang Shaggydog mengenai tempat yang akan dibuka grand launching-nya 10 Juni 2025 nanti. Sebelumnya Milli juga sudah dipakai untuk venue konser musik baik gigs skala kecil dari band baru maupun lawas, juga launching album mulai dari Bloccalito, Tradisi Gila, Sinten Remen & re-issue vinyl Shaggydog – Kembali Berdansa serta kemeriahan lainnya. “Tempat ini sangat terbuka untuk teman – teman kolektif di skena musik maupun disiplin seni lain yang ingin melakukan aktivasi-nya disini tanpa memandang usia....
by admin | Aug 6, 2023 | News, Releases
“Tidak ada peristiwa yang istimewa dan keren untuk diceritakan secara gamblang sih, semua dikutip dari keseharian.” MALANG – Hidup terkadang tidak selalu berjalan mulus, Slowright menyadarinya dengan baik. Band ska dari Malang ini mencoba mewujudkan pengalaman naik turunnya kehidupan mereka selama ini dalam album penuh (LP) perdana mereka yang berjudul High & Low yang dirilis 25 Agustus 2023. Masih di bawah naungan DoggyHouse Records dan diproduseri oleh SB Tunes, Slowright menetapkan 9 lagu yang akan melantun keluar dari setiap DSP yang dijalankan oleh setiap pendengar LP “High & Low”. Sandy Armita (vokal), Mochammad Radja Sandyapura (gitar), Fandi Bagus Tofani (drum), Ahmad Baihaqi Mubarok (terompet), dan Aria Rahadi (trombone) meracik LP perdana ini sejak 2022. Di tengah-tengah kesibukan para personilnya, Slowright pun secara pelan namun pasti melangkah sesuai timeline panjang dalam memproduksi LP ini. Slowright sendiri membuat sebuah rencana jangka panjang tiga tahunan yang dimulai sejak 2020, yang mana album “High & Low” sendiri menempati rencana tahun ketiga. Hal itu pula dipilih karena menyesuaikan jadwal pekerjaan masing-masing personil. “Slowright boleh dibilang band yang cukup terprogram, kami membuat program kerja yang cukup panjang untuk tiga tahun pertama Slowright, jadi dari awal kami sudah sepakat mau ngapain aja, berapa lagu yang harus diproduksi, promosi, tour, sampai sumber pendanaannya. Yang jelas mulai start tahun pertama Slowright terbentuk, segala rencana sudah terjadwal dalam timeline yang jelas. Secara total kami siapkan ada 15 lagu untuk tiga tahun pertama ini. Jadi selama tiga tahun ini, durasi proses produksinya lebih cair karena proses kreatifnya acak, cuma jadwal rilisnya saja yang teratur. Sedangkan album “High & Low” adalah puncak projek tiga tahunan kami.” jelas Jono sang drummer TEMA...
by admin | Mar 16, 2023 | News, Releases
Pada tahun 2005 dari pinggiran kota Cirebon, tepatnya di desa Klayan, muncul grup musik reggae yang sempat mengharu biru blantika musik Jamaika tanah air, Another Project. Berangkat dari beragam latar musikal, namun sama-sama menyukai musik Jamaika, terciptalah komposisi musik reggae yang dipenuhi berbagai warna dari genre lain berpadu irama khas pesisir pantai utara (pantura). Pada tahun 2010 Another Project merilis mini album Let’s Against The World!, dua tahun kemudian full album pertama bertajuk Indonesian Rebel Reggae Revolution dirilis. Pada tahun 2016 sebuah album yang direkam secara live dan diberi judul A Live Recording Session, Pantang Menyerah! berisi 5 karya orisinal mereka diproduksi secara terbatas dalam bentuk kaset pita. Kemudian pada 2017, Another Project merilis mini album kedua Pantura Sound yang diproduksi dalam bentuk CD dalam jumlah terbatas. Karena kesibukan pekerjaan dan lain sebagainya, juga terpengaruh oleh dampak pandemi beberapa tahun belakangan membuat Another Project menjadi kurang produktif dalam berkarya. Sempat mengalami pergantian personil dalam proses bermusiknya, saat ini Another Project terdiri dari: Guntur ‘Ophay’ Nursanto (Vocal/Rhytm Guitar), Nurkamal ‘Cepe’ Siddiq (Lead Guitar/Back. Voc), Muhamad ‘Opik’ Taufik (Bass/Back. Vocal), dan Teguh ‘Telix’ Iman (Drum). Di awal tahun 2023 Another Project bergegas mengerjakan project mini albumnya yang terbaru dengan tetap mengusung tag line pantura sound. Namun, sebelum dirilisnya mini album tersebut, Another Project akan merilis sebuah single yang berjudul Pantang Menyerah!. Sebuah lagu yang ditunjukan sebagai penanda serta kabar baik bagi semua teman – teman Freedom Fighter (sebutan untuk penggemar Another Project) bahwasanya hidup adalah perjuangan. “Seberapa pun keras dan beratnya kita harus bangkit dan terus melawan. Jatuh tersungkur tak buat kita gentar, tetap semangat dan pantang menyerah. Yang artinya bahwa,...
by admin | Dec 26, 2022 | News, Review
“Semburat”, album milik band Ska asal Jakarta “Sentimental Moods” dirilis pada tahun 2017. Album ini terdiri dari 13 lagu yang semuanya terdengar sangat menyenangkan, sesuai dengan ciri khas musik Ska yang kita kenal. Namun, ada sesuatu yang unik dari album ini yaitu lagu “Lhaiki!“, yang menggunakan bahasa Jawa dalam liriknya. Menurutku, ini adalah ide yang brilian karena memberikan nuansa yang khas dan memberikan pengalaman berbeda bagi pendengar. Selain itu, penggunaan bahasa Jawa juga menampilkan kekayaan budaya Indonesia yang lebih luas. Salah satu hal yang aku sukai dari album “Semburat” ini adalah bagaimana Sentimental Moods berhasil menggabungkan musik Ska dengan irama tradisional, seperti pada “Ode“. Menurutku, kombinasi ini sangat unik dan menarik, tetapi perlu diingat bahwa penggabungan ini tidak selalu berhasil tergantung pada bagaimana kedua genre tersebut disatukan dan diintegrasikan dalam lagu tersebut. Sentimental Moods berhasil melakukannya dengan sangat baik. Meskipun aku sangat menikmati seluruh lagu dalam album “Semburat“, ada satu lagu yang agak mengganggu perhatianku yaitu “Black Coffee“, lagu pembuka dari album ini. Menurutku, lagu ini terkesan flat dan tidak terdengar seperti musik Ska yang seharusnya, terutama mengingat Sentimental Moods biasanya memiliki lagu yang upbeat dan energetic. Yang menjadi lagu favoritku adalah “Lovely Niku” dengan menggunakan suling sebagai instrumen tambahan. Menurutku, penggunaan suling memberikan sentuhan yang unik dan fresh pada musik Ska, sekaligus menambahkan suasana yang lebih melodis dan menenangkan. Jadi, bagi kamu yang ingin mencari sesuatu yang berbeda dari musik Ska dan ingin menikmati penggabungan musik Ska dengan unsur budaya, aku sangat merekomendasikan album “Semburat” milik Sentimental Moods. Aransemen musik dalam album ini juga terasa proporsional dan tidak terlalu berlebihan, sehingga lagu-lagu terdengar fresh dan tidak membosankan. Review...