Suarakan Toleransi, Revitalisasi Musik Reggae Ala Black Finit

Suarakan Toleransi, Revitalisasi Musik Reggae Ala Black Finit

  Lahir di Maumere, Flores, dengan nama Albert Gerson unFinit, Gerson pindah ke Yogyakarta pada tahun 2002 dan memulai proyek solo ber-genre Reggae dengan nama BlackFinit pada 2010. Setelah merilis beberapa single, jingle radio serta 1 EP “Kiri Kanan” dan album penuh “Digiyo Digiye”, di tahun 2017 Gerson diajak berkolaborasi oleh produser Grayce Soba (Soba Studio) untuk merekam beberapa lagu bergenre EDM (Electronic Dance Music) dimana Gerson memainkan gitar serta bernyanyi. Di sela kegiatan rekaman album baru bertajuk Tana, Black Finit memutuskan masuk ke manajemen DoggyHouse Records sekaligus merekam sebuah single berjudul “Bukan Puisi”. Komposisi yang diciptakan oleh seniman fotografi kontemporer, Angki Purbandono, ini menjadi sebuah pengalaman baru bagi Gerson dalam hal menyanyikan lagu karya orang lain serta bekerja dengan team produksi yang profesional. Untuk keperluan ini, Gerson dengan rela merombak image-nya menjadi lebih berkelas dengan bantuan stylist, Itta “Mixxit” S. Mulia. Tak ketinggalan Agan Harahap pun turut memoles Gerson melalui sentuhan tangan dingin karya fotografinya yang digunakan sebagai artwork single tersebut. Lirik “Bukan Puisi” sendiri menceritakan tentang seseorang yang mensyukuri kehidupan dengan segala keindahan alam semesta dan segala keberagaman manusianya. Sebagai manusia yang mempunyai banyak teman yang saling menghormati karena saling menjunjung tinggi toleransi walaupun mempunyai pandangan hidup yang berbeda. Agama, suku, ras bahkan pilihan politik yang berbeda seharusnya bukan menjadi sebuah halangan untuk tetap menjaga nyala api toleransi terhadap keberagaman di Indonesia saat ini. Single ini direkam dengan mengajak beberapa musisi kugiran kota Gudeg diantaranya ada Yoyo’ “Shaggydog” di posisi drum, Henry “Morning Horny” pada bass, Ferry Efka di keyboard dan juga gitaris “Brown Sugar” Yus Sugar. Diproduseri oleh pentolan band Ska tanah air, Heruwa “Shaggydog”, “Bukan Puisi” direkam...
Mari Goyang Ambilkan Gelas Bersama Libertaria!

Mari Goyang Ambilkan Gelas Bersama Libertaria!

Tanggal 21 September 2017 silam, Shaggydog merilis Ambilkan Gelas, sebuah single kolaborasi mereka bersama duo Hip Hop Dangdut asal Bantul, NDX A.K.A. Sukses menuai kritikan dan pujian, lagu lepas yang bernuansa Dangdut ini tak luput juga dari incaran musisi lain. Adalah Libertaria, duo dinamis besutan Marzuki Mohamad a.k.a Kill The DJ dengan Balance yang tertarik dengan kolaborasi lintas genre tersebut. Hal ini juga ditambahkan karena kolaborasi tersebut sejalan dengan sensasi ekspresi dan eksperimen dalam bermusik yang dianut pelantun Ora Minggir Tabrak ini. Heruwa pun tak ambil pusing dan mempersilahkan materi tersebut untuk diutak-atik oleh duo yang pernah merilis album Kewer – Kewer di DoggyHouse Records ini. “Bagi kami, ekplorasi bermusik itu bisa menembus batas-batas, termasuk genre, di Elektronika kami menemukan kebebasan yang kami cari, itu kenapa Libertaria lahir, soalnya di Jogja Hip Hop Foundation sendiri musiknya sudah terumuskan dengan jelas” terang Kill the DJ. “Saking bebasnya kita berantem karena pengen meremix Ambilkan Gelas menurut persepsi musikal kita masing-masing” Balance menambahi. “Yowis, bikin dua remixan saja. Hahaha…” Tutup Kill the DJ. Prinsip kebebasan itulah yang menjadi alasan kenapa remix Ambilkan Gelas versi Libertaria ada dua track. Balance menginginkan komposisi remix yang condong ke musik bernuansa Trap EDM sebagaimana Ora Minggir Tabrak di AADC2, sementara Kill The DJ kukuh dengan trademark Dangdut Pantura Elektronika ala album Kewer- Kewer. Perselisihan pendapat ini terjadi sebelum mereka berdua beranjak tour Eropa bersama Jogja Hip Hop Foundation. “Waktu itu sudah mepet mau tur Eropa, terus Heruwa juga lagi sibuk dengan Shaggydog di luar kota dan dia lupa mengirim data vokal NDX, ketika dikirimkan kita sudah gak sempat menggarap materi vokal tersebut” Balance menerangkan kenapa vokal...
Rayakan 20 Tahun, Shaggydog Gelar Konser Tunggal

Rayakan 20 Tahun, Shaggydog Gelar Konser Tunggal

Bertahan sampai usia 20 tahun bagi sebuah band bukanlah sesuatu yang mudah apalagi dengan minimnya perubahan line up. Dan Shaggydog telah membuktikan bahwa mereka mampu mempertahankan tali yang mengikat erat dalam sebuah konsensus berwujud sebuah grup musik. Sempat diprediksi tidak akan bisa bertahan setelah era musik Ska berlalu tapi band yang berasal dari kampung pinggir sungai Code, Sayidan, ini mampu ber-adaptasi. Ya, adaptasi adalah salah satu cara ampuh untuk bertahan di industri musik yang keras ini. Keluarnya mereka dari major label untuk kemudian mendirikan label mereka sendiri, DoggyHouse Records, juga salah satu cara mereka untuk berkelindan dengan kondisi terkini selain memberikan wadah bagi band lain untuk berkreasi dalam merilis album mereka. Album terbaru mereka, Putra Nusantara, dirilis via toko musik digital pada 17 Agustus 2016, sementara format CD dan bokset CD dengan wadah bakpia tanggal 10 November 2016 serta terakhir format piringan hitam pada 22 April 2017. Setelah 6 tahun vakum merilis album, Putra Nusantara merupakan bukti sahih bahwa mereka masih bisa berkreasi disela jadwal manggung yang padat. Belum lagi dengan ganjaran piala AMI Awards 2017 yang berhasil mereka bawa pulang dari kategori Karya Produksi Reggae/SKA/Rocksteady melalui lagu Rock Da Mic. Hampir setiap akhir pekan band yang berdiri 1 Juni 1997 ini selalu berkutat dari panggung ke panggung, dari pelosok pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bahkan sampai Papua. Tidak hanya pulau di Indonesia saja, tercatat mereka telah mencicipi panggung di luar negri semisal di Belanda (2004 dan 2006) , Darwin Festival di Australia (2009) dan terakhir bulan Maret 2016 lalu di Amerika pada gelaran prestisius, South by SouthWest Conference & Festival. Setelah sukses dengan konser perdana Putra Nusantara yang digelar di Gudang...
Shaggydog Ajak NDX A.K.A Rekam Single Dangdut

Shaggydog Ajak NDX A.K.A Rekam Single Dangdut

Kita semua tahu bahwa musik Dangdut sudah bukan lagi eksklusive milik kalangan bawah. Irama Dangdut kini sudah merambah ke pesta raya kalangan atas bahkan tayangan di TV nasional. Tua-muda, kaya-miskin, lelaki-perempuan kini tidak malu lagi untuk bergoyang Dangdut. Bisa jadi kini Dangdut merupakan musik universal yang menyatukan semua kalangan.   Tidak salah rasanya jika Shaggydog juga menciptakan sebuah lagu berirama Dangdut yang menjadi sebuah bonus rahasia di album Putra Nusantara. Ya, jika kita bersabar mendengarkan CD album Putra Nusantara sampai detik terakhir maka niscaya kita akan menemukan sebuah lagu tambahan di track ke 12 yang bernuansa Dangdut.   Berjudul Ambilkan Gelas, lagu ini menggambarkan bahwa Shaggydog pun dekat dengan semua kalangan. Langkah yang tepat rasanya ketika unit Ska kugiran tanah air ini mengajak sebuah grup baru untuk berkolaborasi membawakan ulang lagu ini. Dan dipilihlah NDX A.K.A, dua pemuda asal Imogiri, Bantul, Yogyakarta sebagai tandem mereka.   Adalah Nanda alias Yonanda Frisna Damara dan Fajar Ari atau dikenal sebagai PJR, duo pinggiran kota yang sukses memadukan genre musik Hip Hop dengan Dangdut serta dibalut lirik patah hati ini. Berbekal single laris semacam Tertimbun Masa Lalu, Sayang, Kelingan Mantan, Bojoku Ketikung serta Tewas, mereka sudah malang melintang di panggung musik.   Setelah sebelumnya berkolaborasi live di panggung Mocosik Festival 2017, akhirnya kedua band sepakat untuk mengabadikan momen ini dalam bentuk rekaman bersama. Single kolaborasi Shaggydog dengan NDX A.K.A ini resmi dirilis secara digital download mulai tanggal 21 September 2017, melalui:...
Gandeng DoggyHouse Records, Sentimental Moods Pancarkan Semburat Dalam Bentuk CD & Kaset

Gandeng DoggyHouse Records, Sentimental Moods Pancarkan Semburat Dalam Bentuk CD & Kaset

Setiap lagu itu punya nyawanya masing-masing? Ah yang benar? Ternyata begitulah kenyataannya. Paling tidak ada beberapa teori musik yang menyatakannya. Sedangkan dalam prakteknya, beberapa musisi membenarkan. Seperti yang dilakukan Unit Ska Instrumental asal Jakarta ini, Sentimental Moods, ketika mendesain dan memproduksi album keduanya ini.   Di album bertajuk “SEMBURAT” ini, Sentimental Moods (SM) menghadirkan beberapa lagu yang mempunyai nyawa (soul) dan kekhasannya sendiri. Dalam menerjemahkan nyawa setiap lagu itu, band berpersonel delapan orang ini menggunakan gaya serta aksen beragam, namun semua berbasis ritmis ska tentunya. Kadang SM bergaya tradisional lengkap dengan teknik-teknik serta progresi yang khas. Tapi di lagu lainnya, SM begitu liar dengan birama-birama yang jarang ditemui dalam ska. Pun bisa geram, marah, dan rada sarkastis lewat nada-nada cepat dan minor.   Pokoknya disesuaikan dengan kebutuhan lagu yang mereka bawakan. Maklum, secara SM tak memiliki vokalis, sehingga aransemen serta pemilihan aksen menjadi begitu penting untuk menggambarkan emosi serta pesan tiap lagu. Kecuali tentu beberapa lagu yang memang sengaja dibuatkan lirik sebagai sebuah storytelling. Anda bisa cek gaya ini di Lhaiki dan Last Message.   Kita simak Lhaiki, lagu yang berisi kisah seorang anak muda urban di Jakarta, yang kangen dengan kampungnya dan terus berusaha beradaptasi dengan kesibukan di Ibukota (diwakili dengan “…memainkan musik ska dalam bahasa Jowo…”). Dibalut dengan warna etnik Jawa Timuran yang dinamis serta ber-beat ska, cerita anak muda urban ini begitu mengalir. Pilihan kata-kata apa adanya dengan bahasa jawa anak muda.   Tak hanya di Lhaiki Anda bisa menemui nuansa etnik di album ini. Anda juga akan banyak menyimak kehadiran instrumen-instrumen perkusi khas Indonesia. Mulai dari kendang, calung, hingga sitar Bali yang begitu mistis. SM...