RILIS SINGLE “ROOTS”, DUBYOUTH KEMBALI KE AKAR MUSIK MEREKA

RILIS SINGLE “ROOTS”, DUBYOUTH KEMBALI KE AKAR MUSIK MEREKA

Dubyouth Soundsystem dikenal sebagai tandem yang sukses meracik elemen musik mulai Reggae, Jungle, House Music hingga Dub Music ke dalam atmosfir urban mereka. Proyek musik yang bermula dari kamar tidur ini pun baru saja merilis ulang album pertama mereka ke format digital yang bisa dibeli via toko musik digital semisal iTunes, Spotify dan lainnya. Tahun 2015 grup Elektronik dari Jogjakarta ini pernah merilis single duet dengan Masia One bertajuk “Bababoom” melalui DoggyHouse Records. Kolaborasi tersebut kemudian menjadi materi kontes remix “10 Milli Remix Contest” yang bertepatan dengan perayaan 10 tahun duo yang digawangi oleh PoppaTee a.k.a Heruwa “Shaggydog” dan Metz ini.   Walaupun jarang terdengar kegiatan manggung-nya tapi jangan salah, Dubyouth belum melemah. Tercatat mereka sempat melanglang buana ke Jepang dalam rangkaian Zushi Beach Film Festival di bulan Mei 2016. Dan sudah saatnya di 2018 ini mereka kembali ber-eksplorasi menerabas sisi pojok sebuah jenis musik demi menyajikan materi paling fresh. Setelah tertidur cukup lama, sepertinya 2018 adalah saat yang tepat untuk bangun dari tidur yang panjang. Sudah saatnya mereka kembali ke lantai dansa melalui dentuman single “Roots”. Layaknya datang dari langit seperti hujan api, rentetan “And tell the people in the town cmon wake them up” seolah ingin membangunkan semua orang sekaligus memberi kabar bahwa Dubyouth telah kembali. Komposisi terbaru ini mengajak penikmat musik dansa ke akar musik Elektronik ciri khas awal Dubyouth layaknya kalimat “bring back the fire to the dance again”. Tanpa peduli apa kata orang, tersemat lirik yang kembali menekankan bahwa mereka tetap nge-roots di “I’am strictly roots”. Tidak bisa dipungkiri bahwa irama ber-kelas “the royal sound of Ngayogjakarta” yang diproduseri oleh Heruwa ini bakal mengajak siapapun yang mendengarkannya untuk berdansa resah. Single “Roots” bisa dibeli melalui toko musik...
Ramaikan Ajang Prawirotaman Fest, Black Finit Gelar Street Concert

Ramaikan Ajang Prawirotaman Fest, Black Finit Gelar Street Concert

Seperti yang kita ketahui, Albert Gerson unFinit, atau dikenal dengan nama panggung Black Finit baru saja merilis sebuah single berjudul “Bukan Puisi” yang bisa dibaca disini. Lagu ini dirilis via digital pada tanggal 1 Juni 2018 bertepatan dengan ulang tahun ke 21 Shaggydog, sang empu DoggyHouse Records yang menaunginya. Lirik “Bukan Puisi” yang diciptakan oleh seniman fotografi kontemporer, Angki Purbandono, bercerita tentang seseorang yang mensyukuri kehidupan dengan segala keindahan alam semesta dan segala keberagaman manusianya. Sebagai manusia yang mempunyai banyak teman yang saling menghormati karena saling menjunjung tinggi toleransi walaupun mempunyai pandangan hidup yang berbeda. Agama, suku, ras bahkan pilihan politik yang berbeda seharusnya bukan menjadi sebuah halangan untuk tetap menjaga nyala api toleransi terhadap keberagaman di Indonesia saat ini. Adalah Prawirotaman, sebuah area internasional yang dipadati oleh para wisatawan dari segala pejuru dunia. Kampung turis di Yogyakarta ini adalah tempat yang pas sebagai representasi keinginan manusia untuk mencari teman baru dari segala macam agama, suku dan ras. Prawirotaman sendiri menyelenggarakan sebuah festival budaya yang diisi oleh warga serta paguyuban pengusaha di lingkungan tersebut. Perayaan yang dikenal sebagai Prawirotaman Fest ini menyuguhkan kirab budaya serta pertunjukkan yang diselenggarakan di jalanan Prawirotaman 1 dan 2. Untuk tahun 2018, festival ini akan digelar pada tanggal 21-22 Juli 2018 mulai pukul 1 siang – 12 malam. Black Finit selama ini dikenal sebagai salah satu musisi yang sering wara-wiri bermain di pub-pub se-antero Prawirotaman sehingga menjadi hal yang wajar bila konser-nya pun diselenggarakan bertepatan dengan Prawirotaman Fest. Bertajuk Black Finit – Street Concert, pertunjukan ini bertempat di halaman Playon dimana Black Finit akan menyajikan beberapa nomor hits termasuk single Bukan Puisi di hari...
Suarakan Toleransi, Revitalisasi Musik Reggae Ala Black Finit

Suarakan Toleransi, Revitalisasi Musik Reggae Ala Black Finit

  Lahir di Maumere, Flores, dengan nama Albert Gerson unFinit, Gerson pindah ke Yogyakarta pada tahun 2002 dan memulai proyek solo ber-genre Reggae dengan nama BlackFinit pada 2010. Setelah merilis beberapa single, jingle radio serta 1 EP “Kiri Kanan” dan album penuh “Digiyo Digiye”, di tahun 2017 Gerson diajak berkolaborasi oleh produser Grayce Soba (Soba Studio) untuk merekam beberapa lagu bergenre EDM (Electronic Dance Music) dimana Gerson memainkan gitar serta bernyanyi. Di sela kegiatan rekaman album baru bertajuk Tana, Black Finit memutuskan masuk ke manajemen DoggyHouse Records sekaligus merekam sebuah single berjudul “Bukan Puisi”. Komposisi yang diciptakan oleh seniman fotografi kontemporer, Angki Purbandono, ini menjadi sebuah pengalaman baru bagi Gerson dalam hal menyanyikan lagu karya orang lain serta bekerja dengan team produksi yang profesional. Untuk keperluan ini, Gerson dengan rela merombak image-nya menjadi lebih berkelas dengan bantuan stylist, Itta “Mixxit” S. Mulia. Tak ketinggalan Agan Harahap pun turut memoles Gerson melalui sentuhan tangan dingin karya fotografinya yang digunakan sebagai artwork single tersebut. Lirik “Bukan Puisi” sendiri menceritakan tentang seseorang yang mensyukuri kehidupan dengan segala keindahan alam semesta dan segala keberagaman manusianya. Sebagai manusia yang mempunyai banyak teman yang saling menghormati karena saling menjunjung tinggi toleransi walaupun mempunyai pandangan hidup yang berbeda. Agama, suku, ras bahkan pilihan politik yang berbeda seharusnya bukan menjadi sebuah halangan untuk tetap menjaga nyala api toleransi terhadap keberagaman di Indonesia saat ini. Single ini direkam dengan mengajak beberapa musisi kugiran kota Gudeg diantaranya ada Yoyo’ “Shaggydog” di posisi drum, Henry “Morning Horny” pada bass, Ferry Efka di keyboard dan juga gitaris “Brown Sugar” Yus Sugar. Diproduseri oleh pentolan band Ska tanah air, Heruwa “Shaggydog”, “Bukan Puisi” direkam...
Mari Goyang Ambilkan Gelas Bersama Libertaria!

Mari Goyang Ambilkan Gelas Bersama Libertaria!

Tanggal 21 September 2017 silam, Shaggydog merilis Ambilkan Gelas, sebuah single kolaborasi mereka bersama duo Hip Hop Dangdut asal Bantul, NDX A.K.A. Sukses menuai kritikan dan pujian, lagu lepas yang bernuansa Dangdut ini tak luput juga dari incaran musisi lain. Adalah Libertaria, duo dinamis besutan Marzuki Mohamad a.k.a Kill The DJ dengan Balance yang tertarik dengan kolaborasi lintas genre tersebut. Hal ini juga ditambahkan karena kolaborasi tersebut sejalan dengan sensasi ekspresi dan eksperimen dalam bermusik yang dianut pelantun Ora Minggir Tabrak ini. Heruwa pun tak ambil pusing dan mempersilahkan materi tersebut untuk diutak-atik oleh duo yang pernah merilis album Kewer – Kewer di DoggyHouse Records ini. “Bagi kami, ekplorasi bermusik itu bisa menembus batas-batas, termasuk genre, di Elektronika kami menemukan kebebasan yang kami cari, itu kenapa Libertaria lahir, soalnya di Jogja Hip Hop Foundation sendiri musiknya sudah terumuskan dengan jelas” terang Kill the DJ. “Saking bebasnya kita berantem karena pengen meremix Ambilkan Gelas menurut persepsi musikal kita masing-masing” Balance menambahi. “Yowis, bikin dua remixan saja. Hahaha…” Tutup Kill the DJ. Prinsip kebebasan itulah yang menjadi alasan kenapa remix Ambilkan Gelas versi Libertaria ada dua track. Balance menginginkan komposisi remix yang condong ke musik bernuansa Trap EDM sebagaimana Ora Minggir Tabrak di AADC2, sementara Kill The DJ kukuh dengan trademark Dangdut Pantura Elektronika ala album Kewer- Kewer. Perselisihan pendapat ini terjadi sebelum mereka berdua beranjak tour Eropa bersama Jogja Hip Hop Foundation. “Waktu itu sudah mepet mau tur Eropa, terus Heruwa juga lagi sibuk dengan Shaggydog di luar kota dan dia lupa mengirim data vokal NDX, ketika dikirimkan kita sudah gak sempat menggarap materi vokal tersebut” Balance menerangkan kenapa vokal...
Kaleidoskop Doggyhouse Records 2017

Kaleidoskop Doggyhouse Records 2017

2017 merupakan tahun yang spesial bagi DoggyHouse Records. Sukses merilis format vinyl album Shaggydog – Putra Nusantara serta membantu mereka menggondol tropi AMI Awards merupakan beberapa hal yang menjadikan tahun ini begitu spesial. Juga diundang untuk berpartisipasi dalam beberapa pameran, presentasi dan diskusi mengenai skena musik di beberapa negara lain. Berikut adalah beberapa highlight di tahun 2017: Januari 2017 Setelah sukses menggelar Konser Putra Nusantara 23 Desember 2016, DoggyHouse Records bekerjasama dengan ThreeSixTV merilis video konser 360 derajat Shaggydog melalui link disini. Februari 2017 Kolaborasi pertama antara Shaggydog dengan NDX AKA membawakan lagu Ambilkan Gelas di Moco Sik Festival. Dari acara ini kemudian mereka memutuskan untuk merekam single yang diambil dari hidden track album Putra Nusantara ini sebagai sebuah single kolaborasi baru. Maret 2017 Test press piringan hitam Shaggydog album Putra Nusantara mendarat di markas kami setelah melalui proses mastering hampir 4 bulan dan paket-nya sempat nyasar ke India. Rilisan vinyl pertama dari Shaggydog dan label ini diproduksi di Palomino Records, Amerika. April 2017 DoggyHouse Records merilis album Putra Nusantara milik Shaggydog dalam format piringan hitam bertepatan dengan acara Records Store Day 2017 chapter Yogyakarta yang diinisiasi oleh Jogja Records Store Club bertempat di Angkringan Sari Dele. Pada bulan ini Heruwa “Shaggydog” juga melepas single Senyawa Alam melalui toko musik digital. Mei 2017 Bernhard Awuy resmi bergabung di jajaran staff DoggyHouse Records dan memulai beberapa program diantaranya #DoggySale yang merupakan penjualan paket berisikan beberapa rilisan back catalogue DoggyHouse Records. Juni 2017 Shaggydog merayakan ulang tahunnya yang ke 20 dengan acara potong tumpeng bersama segenap crew dan keluarga serta sesi live Instagram di Doggy House. Kebahagiaan yang terangkum dalam tagar...