by admin | Dec 30, 2021 | News
Shaggydog memang tidak ada matinya, mungkin itu salah satu pernyataan yang berlebihan tapi menggambarkan dengan tepat tentang sebuah band yang telah melanglang buana selama 24 tahun dan semakin solid menghasilkan karya. Setelah masuk nominasi AMI Awards 2021 untuk kategori Artis Keroncong Langgam/Ekstra/Kontemporer bersama Ndarboy Genk dan OK Puspa Jelita plus merilis video klip Di Sayidan versi Keroncong, putaran sloki mereka tidak berhenti. Kali ini enam pemuda asal kampung Sayidan ini akan merilis sebuah buku. Buku yang bertema perjalanan sebuah band atau bahkan musik secara umum di Indonesia belumlah begitu banyak. Sebagian besar band dan musisi disini lebih memilih merilis karya berupa lagu daripada dokumentasi tertulis mengenai perjalanan karier mereka. Bukan sebuah fakta yang mencengangkan mengingat dokumentasi juga baru dilirik akhir – akhir ini. Shaggydog mengambil kesempatan ini dengan menggandeng eks jurnalis Kumparan, Ardhana Pragota, untuk menulis ulang perjalanan mereka berkarier. Buku ini terbagi dalam 4 bab: Rude Boy, Boom Ska, Bersinar dan Masih Bersama dimana masing – masing babak menceritakan era penanda perubahan karier serta ditambah bonus session menganalisa Shaggydog melalui data. Bagian demi bagian buku ini digali oleh Pragota dari memori para personil Shaggydog yang sering kali lupa beberapa hal detail (maklum, faktor umur) sehingga tidak jarang mereka saling bersitegang ketika mendengarkan cerita yang berbeda dari point of view masing – masing. Bersama dalam sebuah band selama 24 tahun membuat persahabatan mereka mengental, menjadikan perbedaan pendapat bahkan perseteruan menjadi hal yang bisa dimaklumi. Toh pada akhirnya mereka kembali ke band yang sudah dianggap sebagai rumah. Mulai dari era kegamangan Heruwa ketika pindah dari hiruk pikuk pesta pora-nya Bali ke atmosfer kebudayaan kota Yogyakarta yang tenang, kisah pertemuan anak...
by admin | Oct 28, 2021 | News
Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Shaggydog telah merilis interpretasi ulang atas hit single mereka, Di Sayidan, bulan Februari lalu. Di bulan April, Shaggydog kembali merombak lagu yang mempopulerkan nama kampung tengah kota yang terletak di pinggir sungai Code itu. Kali ini berkolaborasi dengan Orkes Keroncong Puspa Jelita dan Ndarboy Genk. Hasilnya adalah Di Sayidan versi Keroncong. Kedua lagu tersebut kemudian dirilis dalam bentuk boxset berisi kaset single, t-shirt dan gelas sloki. Tidak berhenti disitu saja, Di Sayidan pun mendapatkan polesan audio visual yang baru dalam bentuk video klip yang disutradarai oleh Bagus “Tikus” Kresnawan. Dengan mengusung konsep kembali ke Sayidan bersama dua tokoh sentral Joko dan Lisa, video klip ini kemudian tayang perdana melalui kanal YouTube: TheDoggyTV tepat pada hari ulang tahun ke 24 Shaggydog, 1 Juni 2021. Versi Keroncong dari lagu yang juga masuk di 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia ini kemudian juga dibuatkan sebuah video klip bekerjasama dengan Collabonation. Kembali menggandeng Bagus “Tikus” Kresnawan, video klip Di Sayidan versi Keroncong melanjutkan cerita tentang Joko dan Lisa. Setelah berpisah sekian lama, kedua-nya bertemu di Warung Jawi, Ndalem Sopingen, Kotagede untuk saling bercerita tentang kisah kehidupannya. Selain personil Shaggydog, Orkes Keroncong Puspa Jelita dan Ndarboy Genk, tampak cameo dari beberapa musisi lain yang ikut menyemarakkan video klip, diantaranya Kunto Aji dan Iga Massardi (Barasuara) yang tampak menikmati lezatnya bakmi Jawa ditambah hangatnya wedang ronde serta kemunculan tak terduga Sal Priadi di akhir video. Video klip Shaggydog feat. Orkes Keroncong Puspa Jelita & Ndarboy Genk – Di Sayidan (Keroncong Version) ini sudah bisa dinikmati melalui kanal YouTube: TheDoggyTV Sementara itu, single Keroncong kolaborasi Shaggydog bersama...
by admin | Aug 10, 2021 | News
Sejarah kopi di Indonesia bermula pada tahun 1696. Pada saat itu, Belanda atas nama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mendarat di Jawa membawa kopi dari Malabar, India. Kopi yang pertama kali dibawa itu merupakan jenis Arabika. Pada tahun 1700-an, kopi menjadi komoditas andalan VOC. Sampai saat ini, ngopi, minum kopi sambil bercengkrama dan berdiskusi adalah budaya bangsa Indonesia. Momen yang hampir sama seperti tahun lalu, ketika Heruwa merilis lagu “Dendang Harapan”, “Ngopi Dulu Lah” adalah sebuah lagu yang ditulisnya untuk mengisi hari-hari di rumah, saat pemerintah Indonesia sedang menerapkan PPKM darurat. Dimainkan, direkam, mixing dan mastering sendiri di studio pribadi miliknya di rumah. Untuk foto cover artwork, dia minta tolong kakaknya yang juga seorang fotografer, Bambang Wijaya. Lagu simpel bernuansa Reggae-akustik-Dub ini terinspirasi dari sebuah ritual yang dia jalani sehari-hari; Ngopi. Menurutnya, ngopi adalah layaknya seperti ritual awal dan akhir dari sebuah hari, pagi dan sore. Kopi adalah bahan bakar para pekerja dan pemikir. Seperti apapun kondisi sebuah negara atau masyarakat, semua diakhiri dan diawali dengan segelas kopi. Bila sudah duduk satu meja, ngopi tidak mengenal kasta, derajat atau kelas. Secangkir kopi bisa menjadi ‘sarana komunikasi’ pemersatu bangsa. Lagu ini akan dirilis via Soundcloud bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2021 oleh label rekaman milik Shaggydog, DoggyHouse Records. Semoga kopi yang kita teguk, menjadi cahaya bagi penglihatan, badan, pikiran dan menjadi penawar hati. “…Ngopi dulu lah, baru lanjut yang...
by admin | Aug 9, 2021 | News
Ada yang masih ingat kenangan masa kecil ketika menabung uang jajan sekolah melalui celengan jago? Bagi seorang Richad Bernado, gitaris Shaggydog ini mengenang memori masa kecil tentang menabung di celengan jago yang masih tersimpan lekat. Hal itulah yang kemudian menginspirasi-nya membuat single baru berjudul Celengan Jago. Richad yang selama ini membuka usaha bakery rumahan bersama istri, ternyata masih bisa menyisihkan waktu untuk menuangkan ide dalam menulis materi rilisan solo-nya. Beberapa lagu sudah tercipta bahkan demo-nya pun sudah direkam bersama Donney Wagna yang juga membantu rekaman re-interpretasi lagu Shaggydog – Di Sayidan. Komposisi Celengan Jago cenderung bernuansa musik Blues, sedikit berbeda dari musik yang diusung Shaggydog. Ketika ditanya alasan kenapa memilih jenis musik ini, Richad menjawab “dari pertama milih musiknya tu udah langsung kepikiran musik yang nge-Blues. Waktu itu kepikiran musik – musik yang dibawain Chuck Berry sama BB King“. Untuk materi lagu lainnya Richad banyak mengulik jenis musik yang berasal dari era dulu ini. “Single kedua nanti ada nuansa lounge music-nya, pake piano, gitar sama terompet”. Hal ini juga dikarenakan kesukaannya mendengarkan musik lawas macam Tom Waits. Makin penasaran melongok materi penuh album solo-nya bukan? Momen saat memecah celengan berbahan tanah liat setelah dua tahun rajin menabung tertuang jelas melalui lirik “Celengan jagoku kupukul dengan palu. Berhamburan uang recehku menggelinding satu-satu”. Kemudian dengan senang hati menghitung gelindingan koin seribu dan lima ratusan yang tidak banyak “tapi cukup untuk beli baju dan celana baru” apalagi masih ada “uang sisa aoaaww lumayan bisa traktir teman”. Sungguh keseruan masa kecil yang sederhana. Berkat pembawaan Richad yang luwes dalam pergaulan, banyak kawan yang membantu merampungkan single ini. Selain...
by admin | May 25, 2021 | News
1 Juni merupakan tanggal ulang tahun Shaggydog, yang pada tahun ini akan beranjak menjadi 24. Umur yang tidak bisa dibilang muda lagi bagi sebuah band, tapi produktivitas mereka tidak kalah dengan band belia yang masih getol merilis karya. Disaat band lain yang seumuran mengendorkan aktifitas-nya karena pandemi atau malah personilnya bubar satu demi satu, Shaggydog tetap solid berkarya. Tengok saja geliat para pemuda Sayidan ini merombak lagu hits Di Sayidan dalam dua versi sekaligus dimana yang terakhir mereka berkolaborasi dengan Orkes Keroncong Puspa Jelita dan Ndarboy Genk. Bukan urusan mudah untuk merombak sebuah lagu lama yang pernah mengangkat karir mereka untuk kemudian dipoles sesuai karakter musiknya yang sekarang. Kelar merilis ulang lagu yang mempopulerkan nama kampung tengah kota yang terletak di pinggir sungai Code itu, Shaggydog kembali sibuk berkutat menggarap video klip bekerjasama dengan Orang Tua. Video klip yang disutradarai oleh Bagus “Tikus” Kresnawan ini mencoba mengejawantahkan pemaknaan lirik lagu yang bercerita tentang kehidupan “di gang gelap di balik ramainya Jogja” ini. Konsep kembali ke Sayidan di video klip ini diperkuat dengan menampilkan potongan video lawas Shaggydog ketika manggung yang kemudian dipadukan dengan tingkah polah aktor yang membawakan watak khas para personil Shaggydog ketika mereka masih muda. Sebelumnya juga telah dibuka lowongan untuk memerankan karakter Shaggydog muda ini yang disebar via akun Instagram @ShaggydogJogja. Ada adegan seru menggambarkan ketika Bandizt menikmati Lapen di emperan gang Sayidan dengan diiringi gitar Richad Bernado yang merupakan cikal bakal terciptanya lagu ini. Sementara itu selipan cerita tentang percintaan tidak luput dari narasi video klip lagu yang juga masuk di 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia ini. Video musik Shaggydog...