by admin | Feb 11, 2023 | News, Review
Syifasativa, seorang aktivis dari Purbalingga, Jawa Tengah yang mengutarakan kritikannya lewat music. Dikenal dengan lirik perlawanan yang puitis Syifasativa kini sudah merilis empat album: “Aku Pusing, Vol. 2” (2020), “Nikmati Sajalah” (2021), “Tanam Sawi Di Bulan” (2021) dan album barunya “Kelompok Tani Remaja” (2022). Kali ini, album “Kelompok Tani Remaja” yang mau aku bedah. Album “Kelompok Tani Remaja” ini berisi 10 lagu, sama seperti album dan single sebelumnya, ia masih mengalunkan irama folk dengan harmonikanya yang syahdu. Album ini berisi tentang realitas kehidupan yang dilihat dari kacamata-nya sendiri, dimana setiap lagu punya cerita dan isu-nya masing-masing yang ingin diangkat. Cover album-nya menggambarkan peristiwa dimana petani ditindas oleh pihak yang ingin merebut lahan mereka. Ilustrasi seorang laki-laki dan perempuan memegang senjata sebagai simbol perlawanan terhadap apa yang sudah dirampas. Aku rasa, Syifasativa menceritakan tentang hal-hal yang masih hangat terjadi di Indonesia, dimana warga mempertahankan lahan mereka dari penggusuran oleh oknum yang menggunakan kekerasan sebagai senjatanya untuk menakutin para warga yang ingin berontak untuk merebut kembali kawasan mereka. Aku mau ngebahas dulu lagu pembukanya, Kelompok Tani Remaja, lagu ini ngebahas curhatan seorang anak yang udah muak sama orang tuanya yang terlalu kontrol dan ga pernah merhatiin dia, jadi dia pergi ke pedesaan buat bantu para petani. Nah, yang menariknya dari lagu ini, intronya pakai dialog tunggal dari sudut pandang orang tua, dan di part akhir melantunkan dialog dari anak petani tersebut. Kritikan keras juga aku dengar di lagu Kota Kapitalis, aku dengar “Ada benteng besar yang tak tampak fisiknya… Melindungi bos kaya, penguasa, dan kolega… Gerbangnya terbuka seakan baik bentuknya… Padahal hanya siasat kontrol manusia…”, ini adalah sebuah tuduhan dari Syifasativa...
by admin | Feb 9, 2023 | Event, News
SEJAK awal mula, hikayat perjumpaan Deep Purple dan God Bless adalah takdir yang akan bergulir panjang. Berangkat dari berupa pertemuan idola dan penggemar, berkembang menjadi dua band rock yang sama-sama teruji waktu, melintasi pergolakan zaman, dan berhasil melewati selera musik yang berubah secara gegas dan dinamis. Pada 1973, Deep Purple lepas dari formasi legendaris Mark II. Band rock yang dibentuk di London pada 1968 ini sedang menjalani masa bulan madu formasi Mark III, dengan dua personel baru: Glenn Hughes (bass), dan David Coverdale, vokalis muda yang saat itu belum punya nama dan dipilih langsung oleh Ritchie Blackmore karena karakter suara yang “…maskulin dan punya corak blues yang jernih.” Di tahun yang sama, berjarak ribuan kilometer dari London, ada sebuah band yang baru dibentuk di Indonesia. Namanya God Bless. Awalnya tapak karier mereka serupa seperti kebanyakan band rock di Indonesia, yakni menjadi band cover dan memainkan lagu-lagu band favoritnya, termasuk Deep Purple. God Bless tumbuh besar di kancah musik Indonesia yang sedang ada di titik puncak gairah. Pelarangan musik ngak ngik ngok yang terjadi di era Orde Lama, sudah tak ada lagi seiring Orde Baru yang naik ke permukaan. Akibatnya, pengaruh budaya pop, termasuk musik rock, mengalir dengan deras ke Indonesia. Ini diikuti dengan munculnya banyak band rock di Indonesia, yang kala itu sering juga, dengan salah kaprah, disebut sebagai band underground. Pada 1974, Deep Purple merilis Burn, album perdana yang menandai dimulainya era Mark III. Beberapa bulan kemudian, Deep Purple merilis album kesembilan, Stormbringer. Pada 1975, mereka merilis album kesepuluh, Come Taste the Band, satu-satunya album yang digarap oleh gitaris Tommy Bolin yang masuk menggantikan Ritchie Blackmore. Pada tahun...
by admin | Feb 8, 2023 | Event, News
Prambanan Jazz Cafe mempersembahkan: Special Intimate With GIGI: Unplugged Session Powered by iKonseria Kamis, 23 Februari 2023 Pukul 16.00 WIB di Prambanan Jazz Cafe, Yogyakarta Tiket tersedia mulai Rabu, 8 Februari 2023 Pukul 15.00 WIB Hanya di app.sermorpheous.com Info lebih lanjut hubungi 08232 6195 671 Rekan Media allyoucanart ykvvknd kolonigigs hookspace musikjogja pophariini synchronize.radio deathrockstar moji.social richmusiconline doggyhouserecs...
by admin | Feb 4, 2023 | News, Review
Lagu ini sebenarnya udah aku dengar pada tahun 2015-an, tapi hanya sekadar mendengarkan saja. Nah… di tahun ini aku mulai tertarik menelisik lebih dalam tentang makna lagu ‘Alamak’ karya Salammusik feat. Altimet. Sedikit perkenalan dengan band ini, Salammusik adalah band reggae asal Malaysia yang berdiri pada tahun 2006 dengan Ashraaf Salam A. Azlan sebagai vokalis. Musik mereka dipengaruhi oleh reggae dan hip hop, dipadukan dengan perpaduan musik modern dan tradisional. Di lagu ‘Alamak’ ini, mereka berkolaborasi dengan Rapper Malaysia juga, Altimet. Kita bahas dahulu dari judulnya, “Alamak” kata ini biasanya digunakan ketika kita kaget atau kecewa, sering dipakai di Indonesia dan juga beberapa negara di Asia Tenggara. Biasanya buat nge-react spontan terhadap sesuatu yang tidak kelihatan atau situasi yang tidak enak. Lagu ini bercerita tentang anak yang jatuh ke dalam sumur dan menemukan buku-buku dengan isi yang sama namun cover yang berbeda. Anak itu ingin memberikan informasi isi buku ke teman dan orang di sekitarnya, namun karena penampilannya yang hanya mengenakan baju dalam dan sendal jepit, mereka semua tidak percaya dan menganggapnya sedang bercanda. Setelah aku menelisik lebih dalam, lagu ini ternyata membahas tentang perjalanan spiritual orang yang sedang mencari tau kebenaran mengenai agama. Dia menemukan kesimpulan bahwa semua agama punya tujuan yang sama, yaitu jadi orang baik dan menyebarkan kebaikan. Walaupun perintah, larangan, dan bahasanya beda-beda, intinya sama saja, cuma namanya yang beda. Perbedaan itu yang mungkin dapat hidup berdampingan dalam masyarakat yang sama, tanpa harus menindas satu sama lain. Itu ditegaskan di lirik “lebih banyak yang sama”, “daripada yang berbeza”. Lirik rap yang dinyanyikan Altimet yang tidak terlalu up-beat layaknya musisi reggaeton, juga menggunakan kalimat frasa yang...
by admin | Jan 30, 2023 | News, Review
Berdiri pada tahun 2017, Arief dan Sigit menamai genre Irama Pantai Selatan dengan “Maritim Pop”, yang simplenya lagu pop yang dipadukan ritme dan lirik dengan atmosfer pantai. Pada tahun 2020, mereka merilis debut album pertama “Dendang Samudra” yang terdiri dari 8 lagu dengan lagu pembuka berjudul yang sama. Album ini menceritakan tentang kehidupan yang sering dijumpai di pesisir pantai, mulai dari kisah cinta, festival rakyat dan detail-detail kecil seperti kesegaran minum es kelapa di pinggir pantai. Aku mendengar ada nuansa keroncong, latin dan jazz di dalamnya, dengan instrumen ukulele khas dari musik ‘Hawaiian’. Vokal congkak Melayu yang “mendayu”, juga lirik yang ringan dan bermasyarakat serta dibawakan dengan tidak bertele – tele yang sangat lekat dengan pembawaan mereka. Aku langsung teringat lagu-lagunya Alm. Tan P Ramlee ketika pertama kali dengar lagu-lagu mereka. Ada dua lagu yang berbeda dari semuanya di album ini, ‘Puja Puji Puspa Hati’ dan ‘Asmara Lautan Biru (Di Cilincing)”. Kedua lagu ini memiliki vokal yang lembut dan sangat memikat, sekaligus menjadi lagu dengan tempo paling slow di album ini. Yang menonjol juga, di lagu ‘Bintang Laut’ diawali dengen puisi naratif yang dibawakan seolah sedang bercerita kepada sekumpulan anak-anak. Lagu ini membawa pesan penting tentang pentingnya melindungi habitat dan ekosistem laut. Aku mau ngebahas arti lirik lagunya. Di lagu “Jelita”, menurutku seperti menonton film komedi pendek ketika mendengarkannya, semisal “Seorang pria yang melongo melihat gadis yang senyum dengannya sambil berlari dipinggir pantai, tapi gadis itu enggak senyum dengan pria itu aja, semua pria di pantai diberikan senyuman. Tapi gadis itu anaknya jagoan pantai tersebut”. Pada lagu “Khayalan Rakyat” menceritakan tentang curhatan seorang pria yang ingin melamar seorang gadis...