Jangan Lewatkan Perjumpaan Kembali Deep Purple Dengan God Bless di Solo!

Jangan Lewatkan Perjumpaan Kembali Deep Purple Dengan God Bless di Solo!

SEJAK awal mula, hikayat perjumpaan Deep Purple dan God Bless adalah takdir yang akan bergulir panjang. Berangkat dari berupa pertemuan idola dan penggemar, berkembang menjadi dua band rock yang sama-sama teruji waktu, melintasi pergolakan zaman, dan berhasil melewati selera musik yang berubah secara gegas dan dinamis. Pada 1973, Deep Purple lepas dari formasi legendaris Mark II. Band rock yang dibentuk di London pada 1968 ini sedang menjalani masa bulan madu formasi Mark III, dengan dua personel baru: Glenn Hughes (bass), dan David Coverdale, vokalis muda yang saat itu belum punya nama dan dipilih langsung oleh Ritchie Blackmore karena karakter suara yang “…maskulin dan punya corak blues yang jernih.” Di tahun yang sama, berjarak ribuan kilometer dari London, ada sebuah band yang baru dibentuk di Indonesia. Namanya God Bless. Awalnya tapak karier mereka serupa seperti kebanyakan band rock di Indonesia, yakni menjadi band cover dan memainkan lagu-lagu band favoritnya, termasuk Deep Purple. God Bless tumbuh besar di kancah musik Indonesia yang sedang ada di titik puncak gairah. Pelarangan musik ngak ngik ngok yang terjadi di era Orde Lama, sudah tak ada lagi seiring Orde Baru yang naik ke permukaan. Akibatnya, pengaruh budaya pop, termasuk musik rock, mengalir dengan deras ke Indonesia. Ini diikuti dengan munculnya banyak band rock di Indonesia, yang kala itu sering juga, dengan salah kaprah,  disebut sebagai band underground. Pada 1974, Deep Purple merilis Burn, album perdana yang menandai dimulainya era Mark III. Beberapa bulan kemudian, Deep Purple merilis album kesembilan, Stormbringer. Pada 1975, mereka merilis album kesepuluh, Come Taste the Band, satu-satunya album yang digarap oleh gitaris Tommy Bolin yang masuk menggantikan Ritchie Blackmore. Pada tahun...
Special Intimate Concert with Gigi at Prambanan Jazz Cafe

Special Intimate Concert with Gigi at Prambanan Jazz Cafe

Prambanan Jazz Cafe mempersembahkan: Special Intimate With GIGI: Unplugged Session   Powered by iKonseria Kamis, 23 Februari 2023 Pukul 16.00 WIB di Prambanan Jazz Cafe, Yogyakarta   Tiket tersedia mulai Rabu, 8 Februari 2023 Pukul 15.00 WIB Hanya di app.sermorpheous.com   Info lebih lanjut hubungi 08232 6195 671 Rekan Media allyoucanart ykvvknd kolonigigs hookspace musikjogja pophariini synchronize.radio deathrockstar moji.social richmusiconline doggyhouserecs...
Satukan Pluralisme, Salammusik Dan Altimet Hadirkan Harmonisasi Dalam Alamak

Satukan Pluralisme, Salammusik Dan Altimet Hadirkan Harmonisasi Dalam Alamak

Lagu ini sebenarnya udah aku dengar pada tahun 2015-an, tapi hanya sekadar mendengarkan saja. Nah… di tahun ini aku mulai tertarik menelisik lebih dalam tentang makna lagu ‘Alamak’ karya Salammusik feat. Altimet. Sedikit perkenalan dengan band ini, Salammusik adalah band reggae asal Malaysia yang berdiri pada tahun 2006 dengan Ashraaf Salam A. Azlan sebagai vokalis. Musik mereka dipengaruhi oleh reggae dan hip hop, dipadukan dengan perpaduan musik modern dan tradisional. Di lagu ‘Alamak’ ini, mereka berkolaborasi dengan Rapper Malaysia juga, Altimet. Kita bahas dahulu dari judulnya, “Alamak” kata ini biasanya digunakan ketika kita kaget atau kecewa, sering dipakai di Indonesia dan juga beberapa negara di Asia Tenggara. Biasanya buat nge-react spontan terhadap sesuatu yang tidak kelihatan atau situasi yang tidak enak. Lagu ini bercerita tentang anak yang jatuh ke dalam sumur dan menemukan buku-buku dengan isi yang sama namun cover yang berbeda. Anak itu ingin memberikan informasi isi buku ke teman dan orang di sekitarnya, namun karena penampilannya yang hanya mengenakan baju dalam dan sendal jepit, mereka semua tidak percaya dan menganggapnya sedang bercanda. Setelah aku menelisik lebih dalam, lagu ini ternyata membahas tentang perjalanan spiritual orang yang sedang mencari tau kebenaran mengenai agama. Dia menemukan kesimpulan bahwa semua agama punya tujuan yang sama, yaitu jadi orang baik dan menyebarkan kebaikan. Walaupun perintah, larangan, dan bahasanya beda-beda, intinya sama saja, cuma namanya yang beda. Perbedaan itu yang mungkin dapat hidup berdampingan dalam masyarakat yang sama, tanpa harus menindas satu sama lain. Itu ditegaskan di lirik “lebih banyak yang sama”, “daripada yang berbeza”. Lirik rap yang dinyanyikan Altimet yang tidak terlalu up-beat layaknya musisi reggaeton, juga menggunakan kalimat frasa yang...
Bersama Dendang Samudra, Irama Pantai Selatan Ajak Nikmati Esensi Kehidupan Pantai

Bersama Dendang Samudra, Irama Pantai Selatan Ajak Nikmati Esensi Kehidupan Pantai

Berdiri pada tahun 2017, Arief dan Sigit menamai genre Irama Pantai Selatan dengan “Maritim Pop”, yang simplenya lagu pop yang dipadukan ritme dan lirik dengan atmosfer pantai. Pada tahun 2020, mereka merilis debut album pertama “Dendang Samudra” yang terdiri dari 8 lagu dengan lagu pembuka berjudul yang sama. Album ini menceritakan tentang kehidupan yang sering dijumpai di pesisir pantai, mulai dari kisah cinta, festival rakyat dan detail-detail kecil seperti kesegaran minum es kelapa di pinggir pantai. Aku mendengar ada nuansa keroncong, latin dan jazz di dalamnya, dengan instrumen ukulele khas dari musik ‘Hawaiian’. Vokal congkak Melayu yang “mendayu”, juga lirik yang ringan dan bermasyarakat serta dibawakan dengan tidak bertele – tele yang sangat lekat dengan pembawaan mereka. Aku langsung teringat lagu-lagunya Alm. Tan P Ramlee ketika pertama kali dengar lagu-lagu mereka. Ada dua lagu yang berbeda dari semuanya di album ini, ‘Puja Puji Puspa Hati’ dan ‘Asmara Lautan Biru (Di Cilincing)”. Kedua lagu ini memiliki vokal yang lembut dan sangat memikat, sekaligus menjadi lagu dengan tempo paling slow di album ini. Yang menonjol juga, di lagu ‘Bintang Laut’ diawali dengen puisi naratif yang dibawakan seolah sedang bercerita kepada sekumpulan anak-anak. Lagu ini membawa pesan penting tentang pentingnya melindungi habitat dan ekosistem laut. Aku mau ngebahas arti lirik lagunya. Di lagu “Jelita”, menurutku seperti menonton film komedi pendek ketika mendengarkannya, semisal “Seorang pria yang melongo melihat gadis yang senyum dengannya sambil berlari dipinggir pantai, tapi gadis itu enggak senyum dengan pria itu aja, semua pria di pantai diberikan senyuman. Tapi gadis itu anaknya jagoan pantai tersebut”. Pada lagu “Khayalan Rakyat” menceritakan tentang curhatan seorang pria yang ingin melamar seorang gadis...
Senyawa Tawarkan Kesuraman Yang Mencekam Di Acaraki

Senyawa Tawarkan Kesuraman Yang Mencekam Di Acaraki

Senyawa adalah duo musisi kontemporer yang dibuat oleh Rully Shabara dan Wukir Suryadi di Yogyakarta pada tahun 2010. Rully sebelumnya adalah vokalis dari band math-rock/noise-rock bernama Zoo serta vokalis band Hip Metal, Middle Finger, sedangkan Wukir lebih banyak berkecimpung di dunia musik tradisional. Senyawa menggabungkan unsur musik tradisional Indonesia dengan eksperimen mencampurkan berbagai gaya musik seperti metal, punk dan folk untuk menghasilkan komposisi yang mendapat pengaruh avant-garde dengan warisan budaya tradisional. Teknik vokal Rully yang dipengaruhi urban ethnic dipadu dengan instrumentasi bambu dan peralatan pertanian yang dibuat oleh Wukir, serta distorsi gitar menambah warna pada musik Senyawa. Kurang lebih sekitar 9 album dan 3 EP yang sudah diciptakan Senyawa selama perjalanan bermusiknya. Kali ini aku ngebahas album “Acaraki” yang dibuat di tahun 2014. Album ini terdiri dari 11 lagu dengan lagu pembuka ‘Pada Siang Hari’, semua lagu menggunakan instumen bambu yang khas dari Wukir yang membuat suasana suram dan mencekam diantara irama-irama distorsi mereka. Aku mencoba mendengarkan beberapa lagu ‘Pada Siang Hari’, ‘Pasca’, ‘Sisa’ dan ‘Di Pudarnya Senja’. Aku seperti masuk ke dunia lain yang penuh dengan kegelapan dikelilingi suara-suara misterius yang mencekam, lalu semua ketakutan yang di dalam diriku menghampiri, tetapi anehnya aku menikmatinya. Puisi-puisi elegi suram yang dibawakan Rully begitu eksentrik dan tidak halus yang disengaja, ditambah suara instrumen bambu yang dominan menambah aura “mencekam” pada irama-irama di album ini. Tetapi, puisi-puisi yang dibawakan Rully tidak begitu jelas terdengar karena irama yang menurutku terlalu keras. Yang unik, di lagu “Kereta Tak Berhenti Lama” diadaptasi dari lagu anak-anak “Naik Kereta Api” yang dibawakan dengan nada suram khas Senyawa. Juga di lagu “Jaranan”, teriakan yang saling sahut-menyahut, serta vokal...