Rasa Damai Dalam Single Terbaru Raski, When You Smile

Rasa Damai Dalam Single Terbaru Raski, When You Smile

Sedikit cerita mengenai Rasvan yang memulai karier-nya pada tahun 2012, kemudian di tahun 2015 berkolaborasi dengan Aoki sebagai vokalis, keduanya dibawah moniker “Rasvan Aoki”. Band ini menghasilkan album yang menuai pujian, Tyaga, pada tahun 2018. Kelar bersama Aoki, Rasvan melanjutkan proyek bersama Kikoo dan melahirkan Can We Talk?, sebuah kolaborasi dengan Alfred The Alien via DoggyHouse Records yang berhasil masuk nominasi AMI Awards 2021. Setelah semua perubahan yang terjadi, Rasvan kini terlahir kembali dengan nama Raski. Dengan Abink di vokal, Ferry di keyboard, dan Rasvan di gitar, Raski mencoba mengembalikan potongan puzzle yang sempat tersebar. Menyegarkan seperti biasa, menyejukkan dan menenangkan, Raski dengan formasi baru ini siap menjangkau lebih tinggi dan mengakar lebih dalam. Bersama formasi baru ini, Raski merilis single When You Smile. Menyembuhkan, menyejukkan, dan menimbulkan rasa nostalgia, When You Smile adalah semangkuk sajian yang menenangkan, menggabungkan rock steady dan reggae, dengan sentuhan soul. Dengan suara lembut nan jazzy dari Abink, yang terdengar seperti penyanyi jazz tahun 80-an, sound gitar yang smooth dari Rasvan, dan nada-nada keyboard milik Ferry yang melengkapi komposisi, lagu ini adalah anthem bagi sepasang kekasih untuk menyatakan cinta mereka di musim apa pun, kapan saja. Lagu ini terinspirasi dari interaksi dua arah dari dua individu yang terlibat dalam hubungan romantis, dimana satu perspektif diceritakan melalui lirik lagu. Sifat apa yang kamu cari dari seorang kekasih? Senyuman, sesederhana itu; senyuman dapat menghilangkan tekanan di bahu kita. When You Smile paling enak didengarkan dalam suasana tenang, mungkin di teras rumah, meskipun itu juga terbuka untuk kemungkinan mencoba menemukan kedamaian dan kehangatan di kota yang bergerak cepat. Raski juga berharap dapat menyampaikan kepada khalayak dan siapapun...
Another Project Rilis Single Penanda Perjuangan Untuk Terus Berkarya

Another Project Rilis Single Penanda Perjuangan Untuk Terus Berkarya

Pada tahun 2005 dari pinggiran kota Cirebon, tepatnya di desa Klayan, muncul grup musik reggae yang sempat mengharu biru blantika musik Jamaika tanah air, Another Project. Berangkat dari beragam latar musikal, namun sama-sama menyukai musik Jamaika, terciptalah komposisi musik reggae yang dipenuhi berbagai warna dari genre lain berpadu irama khas pesisir pantai utara (pantura). Pada tahun 2010 Another Project merilis mini album Let’s Against The World!, dua tahun kemudian full album pertama bertajuk Indonesian Rebel Reggae Revolution dirilis. Pada tahun 2016 sebuah album yang direkam secara live dan diberi judul A Live Recording Session, Pantang Menyerah! berisi 5 karya orisinal mereka diproduksi secara terbatas dalam bentuk kaset pita. Kemudian pada 2017, Another Project merilis mini album kedua Pantura Sound yang diproduksi dalam bentuk CD dalam jumlah terbatas. Karena kesibukan pekerjaan dan lain sebagainya, juga terpengaruh oleh dampak pandemi beberapa tahun belakangan membuat Another Project menjadi kurang produktif dalam berkarya. Sempat mengalami pergantian personil dalam proses bermusiknya, saat ini Another Project terdiri dari: Guntur ‘Ophay’ Nursanto (Vocal/Rhytm Guitar), Nurkamal ‘Cepe’ Siddiq (Lead Guitar/Back. Voc), Muhamad ‘Opik’ Taufik (Bass/Back. Vocal), dan Teguh ‘Telix’ Iman (Drum). Di awal tahun 2023 Another Project bergegas mengerjakan project mini albumnya yang terbaru dengan tetap mengusung tag line pantura sound. Namun, sebelum dirilisnya mini album tersebut, Another Project akan merilis sebuah single yang berjudul Pantang Menyerah!. Sebuah lagu yang ditunjukan sebagai penanda serta kabar baik bagi semua teman – teman Freedom Fighter (sebutan untuk penggemar Another Project) bahwasanya hidup adalah perjuangan. “Seberapa pun keras dan beratnya kita harus bangkit dan terus melawan. Jatuh tersungkur tak buat kita gentar, tetap semangat dan pantang menyerah. Yang artinya bahwa,...
Mengulik Musik Indonesia Yang Mengandung Substansi Narkoba

Mengulik Musik Indonesia Yang Mengandung Substansi Narkoba

Musik dan narkoba (narkotika, psikotropika, dan obat terlarang) dapat memiliki hubungan yang kompleks. Beberapa musisi percaya bahwa menggunakan narkoba dapat meningkatkan pengalaman musik, merangsang perasaan yang dialami, meningkatkan kreativitas, penciptaan lirik dan mengurangi rasa takut atau cemas saat tampil di depan publik. Beberapa musik yang mengandung unsur narkoba dapat menimbulkan berbagai reaksi dari pendengarnya. Ada yang menilai bahwa lagu tersebut sebagai wujud seni dan kreativitas dari penciptanya, namun ada juga yang menganggapnya sebagai ajakan atau glorifikasi terhadap penggunaan narkoba. Terlepas dari semua hal-hal yang negatif dari pengaruh narkotika, musik yang mengandung makna lirik narkoba tetaplah menjadi bagian dari sejarah musik dan budaya populer. Kali ini aku mau merangkai dan memaknai beberapa musik yang aku rasa mengandung unsur narkoba yang mungkin jarang diketahui banyak orang. The Brims – Anti Gandja The Brims (biar rupa – rupa isinya, masih tetap satu) merupakan salah satu grup musik yang tergabung dalam unit Brigade Mobil Republik Indonesia yang dibentuk pada tahun 70an, mengusung genre rock dengan unsur psychedelic. Salah satu karya terkenal mereka adalah lagu “Anti Gandja” dari album Vol. 1: Let Me Show My Way – Anti Gandja (Mesra) yang memiliki nuansa trippy dan mengajak untuk melawan penggunaan narkotika. Meskipun bertujuan untuk mengkampanyekan anti narkotika, “Anti Gandja” justru mampu membuat pendengarnya merasa terhanyut dalam suasana “mengawang”. Lagu ini tentunya memunculkan berbagai pertanyaan dan kesan yang mengganjal segera muncul dalam pikiran kita setelah mendengar lagu yang dirilis pada tahun 1972 ini. Salah satu hal yang mungkin ditanyakan adalah bagaimana mungkin sebuah lagu yang terdengar seperti memberikan informasi tentang bahaya penggunaan narkotika malah memberikan efek halusinasi dan sangat cocok didengar ketika sedang “high”. The Flowers...
Satukan Pluralisme, Salammusik Dan Altimet Hadirkan Harmonisasi Dalam Alamak

Satukan Pluralisme, Salammusik Dan Altimet Hadirkan Harmonisasi Dalam Alamak

Lagu ini sebenarnya udah aku dengar pada tahun 2015-an, tapi hanya sekadar mendengarkan saja. Nah… di tahun ini aku mulai tertarik menelisik lebih dalam tentang makna lagu ‘Alamak’ karya Salammusik feat. Altimet. Sedikit perkenalan dengan band ini, Salammusik adalah band reggae asal Malaysia yang berdiri pada tahun 2006 dengan Ashraaf Salam A. Azlan sebagai vokalis. Musik mereka dipengaruhi oleh reggae dan hip hop, dipadukan dengan perpaduan musik modern dan tradisional. Di lagu ‘Alamak’ ini, mereka berkolaborasi dengan Rapper Malaysia juga, Altimet. Kita bahas dahulu dari judulnya, “Alamak” kata ini biasanya digunakan ketika kita kaget atau kecewa, sering dipakai di Indonesia dan juga beberapa negara di Asia Tenggara. Biasanya buat nge-react spontan terhadap sesuatu yang tidak kelihatan atau situasi yang tidak enak. Lagu ini bercerita tentang anak yang jatuh ke dalam sumur dan menemukan buku-buku dengan isi yang sama namun cover yang berbeda. Anak itu ingin memberikan informasi isi buku ke teman dan orang di sekitarnya, namun karena penampilannya yang hanya mengenakan baju dalam dan sendal jepit, mereka semua tidak percaya dan menganggapnya sedang bercanda. Setelah aku menelisik lebih dalam, lagu ini ternyata membahas tentang perjalanan spiritual orang yang sedang mencari tau kebenaran mengenai agama. Dia menemukan kesimpulan bahwa semua agama punya tujuan yang sama, yaitu jadi orang baik dan menyebarkan kebaikan. Walaupun perintah, larangan, dan bahasanya beda-beda, intinya sama saja, cuma namanya yang beda. Perbedaan itu yang mungkin dapat hidup berdampingan dalam masyarakat yang sama, tanpa harus menindas satu sama lain. Itu ditegaskan di lirik “lebih banyak yang sama”, “daripada yang berbeza”. Lirik rap yang dinyanyikan Altimet yang tidak terlalu up-beat layaknya musisi reggaeton, juga menggunakan kalimat frasa yang...
Radit Echoman Tawarkan Reggae Yang Mengawang di Truly Gili

Radit Echoman Tawarkan Reggae Yang Mengawang di Truly Gili

“Truly Gili” adalah album pertama yang diciptakan Radit Echoman pada tahun 2018. Album ini terdiri dari 10 lagu dan 1 Bonus Track. Lagu pembuka “Mr Sunset” adalah lagu yang sangat upbeat dan secara tidak langsung sudah menggambarkan lagu-lagu berikutnya. Salah satu lagu yang paling menonjol dalam album ini adalah “Giri Irie”, yang menampilkan lirik yang mendalam tentang kemenangan dan kegembiraan. Musiknya yang mengalir dengan ritme yang mengawang layaknya efek echo-delay (hence the name Echoman – ed) menambah kesan yang ditinggalkan oleh lagu ini. Lagu “Island Vibes” menjadi perhatian saya, karena terdapat kata Kyan. Sekedar informasi, kata Kyan adalah kata slang yang sering diucap oleh orang-orang Afrika sebagai pengganti kata Can. Menurut saya, Radit sengaja memasukkan sedikit unsur Afrika ke dalam musik Reggae tanpa menghilangkan ciri khas Reggae pada lagunya. Ia juga memasukkan penggalan kata yang sangat jarang saya dengar di lirik lagu, seperti contoh kata Chalice pada lagu “Gili Irie” dan “Nuff Babylon”. Chalice sendiri adalah sebuah piala berbentuk cawan yang biasanya digunakan untuk meminum anggur. Namun, di pendengaran saya terdapat beberapa lagu di album ini yang seharusnya bisa lebih terdengar menohok, seperti “Fullmoon In Tramena” dan “Take Me To Di Island”, yang tidak begitu menonjol dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya. Secara keseluruhan, “Truly Gili” adalah album yang luar biasa dan sukses menciptakan perpaduan se-begitu kompleks terhadap aliran musik Reggae dibalut dengan Dubstep, membuatnya terdengar fresh dan mengawang tinggi, seperti mendengarkan perpaduan antara Bob Marley dan Pink Floyd di dalam satu lagu. Saya sangat merekomendasikan album ini bagi para penggemar musik Reggae dan Dubstep, yang sedang mencari sesuatu yang baru dan berbeda. Review oleh Ahmad Gibran Editor Indra Menus Foto...